Empat dari 10 Anak Indonesia Tergolong Pendek

0
140


HASIL Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 menunjukkan prevalensi stunting “pendek menurut umurnya” pada balita sebesar 36,8 persen dan terdapat disparitas antar wilayah di Indonesia, baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota.

Ini menunjukkan bahwa masalah gizi kurang pada balita, khususnya stunting, masih memprihatinkan mengingat sekitar 4 dari 10 anak Indonesia tergolong pendek jika dibandingkan standar tinggi badan pada umur yang sama. Apabila tidak ada intervensi gizi yang baik pada masa anak-anak, maka dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan baik saat ini maupun masa akan datang.

Untuk kasus Indonesia, persoalan stunting bukan hanya mencakup tingginya prevalensi, tetapi juga bervariasinya prevalensi antar wilayah administratif. Upaya penanganan masalah gizi termasuk stunting dilakukan melalui program Scaling-up Nutrition Movement (SUN Movement) yang berfokus pada 1.000 hari pertama kehidupan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada tahun 2012.

Melalui riset yang berjudul “Analisis Disparitas Prevalensi Stunting pada Balita di Berbagai Wilayah di Indonesia serta Implikasinya Terhadap Kebijakan”, peneliti yang terdiri dari Drajat Martianto, Hidayat Syarief, Yayat Heryatno, Ikeu Tanziha dan Indah Yuliana mengungkap bahwa variabel laten yang paling berpengaruh terhadap disparitas prevalensi stunting adalah akses ekonomi masyarakat.

Semakin tinggi akses ekonomi masyarakat, maka semakin rendah disparitas prevalensi stunting. Faktor-faktor lainnya adalah imunisasi yang tidak lengkap, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), ibu tunggal dan kemiskinan.

Data yang digunakan dalam riset ini adalah data primer dari dua wilayah di Jawa Barat yakni Kota Bekasi (terendah) dan Kabupaten Cianjur (tertinggi). Sedangkan data sekundernya diperoleh dari hasil survey nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkas). Total kabupaten yang dijadikan sampel Riskesda tahun 2007 adalah 440 kabupaten/kota yang tersebar di 33 provinsi.

Hanya 4 kabupaten/kota yang prevalensi stunting-nya berada pada kategori rendah di Indonesia yakni Kota Mojokerto (19,1%), Kota Tanjung Pinang (19,3%), Kabupaten Wajo (18,6%) dan Kabupaten Sami (16,7%). Sementara itu sebagian besar wilayah Indonesia lainnya berada pada kategori stunting tinggi dan sangat tinggi. Dan disparitas prevalensi stunting tertinggi berada di Kabupaten Nias Selatan (50,4%).

Hasil olah data menunjukkan bahwa lebih dari 50% kabupaten/kota di Indonesia memiliki persentase ibu dengan tinggi badan kurang dari 150 cm berada pada kategori sedang dan lebih dari 60% kabupaten/kota memiliki persentase ibu tunggal pada kategori rendah.

“Kajian ini merekomendasikan agar pemerintah pusat (khususnya Bappenas dan Kementerian Kesehatan) dapat meningkatkan intensitas sosialisasi masalah stunting kepada setiap daerah, mengadakan pelatihan terutama kepada para kepala dinas/pejabat eselon 1 dan 2 di kabupaten/kota, dan mengintegrasikan program penanggulangan kemiskinan dengan program gizi dan kesehatan,” ujar Drajat.

*Siaran Pers IPB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here