Hari Pers untuk Siapa?

0
30
Journalime Hari Pers Nasional
Isu jurnalisme di Hari Pers Nasional

HARI Pers Nasional baru saja dipestakan pada Jumat 9 Februari lalu. Pesta ini dihadiri lagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta jajaran pejabat nasional dan lokal.

Kenapa memakai kata “pesta” bukan peringatan atau perayaan? Jawabannya bisa Anda temukan dengan kesimpulan sendiri setelah membaca artikel ini.

Acara Hari Pers Nasional dihelat di Kota Padang, Sumater Barat. Diberitakan berbagai media berlangsung sangat gembira. Ada beberapa momen terpotret berlangsung di acara yang dihadiri para petinggi redaksi berbagai media nasional ini.

Ada momen Presiden Jokowi bertukar peran dengan salah seorang wartawan senior asal Surabaya. Katanya Jokowi ingin merasakan menjadi wartawan yang mewawancarai presiden. Plus membagi sepeda bagi wartawan yang menjadi korban Jokowi. Momen itu mengundang gelak tawa hadirin pers dan para tamu undangan.

Momen lainnya, adalah ketika Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono memberikan sambutan. Dia mengajak para warga Sumatera Barat untuk mengantarkan kembali Jokowi sebagai presiden di Pilpres 2019.

Ajakan itu disampaikan Margiono dengan cara guyon. Ini pun mengundang gelak tawa, dan tepuk tangan. Luar biasa. Luar biasa miris maksudnya.

Setiap momen sepertinya banyak gelak tawa dan guyon di acara ini, plus pemberian penghargaan terbaik kepada media dengan beberapa kategori. Sangat bahagia sepertinya.

Pantauan saya dari pemberitaan media online, peringatan ini tidak ada yang sangat penting untuk dicermati. Tidak ada pembahasan isu-isu kritis yang kini sedang dihadapi dunia jurnalistik di Indonesia. Seperti independensi, kesejahteraan jurnalis, atau visi jurnalistik di masa mendatang.

Dahlan Iskan saat memberikan sambutannya, hanya sedikit menyenggol isu sensitif tersebut. Catatannya hanya bagaimana media cetak harus inovatif dengan membuat tulisan yang indah, karena lapak karyanya sudah dimakan oleh media online. Satu lagi, jurnalis tidak memeras. Setelah itu, pun berlalu.

Isu Kritis Jurnalistik ke Mana?

Kegembiraan Hari Pers Nasional ini berbanding terbalik dengan permasalahan dunia jurnalistik saat ini. Hari Pers Nasional ini sepertinya hanya acara buang-buang uang rakyat saja. Karena pesta ini memakai dana APBN dan APBD. Hasilnya apa? Sepertinya tidak ada.

Tidak ada pernyataan bersama membangun profesionalisme dan independensi media menjelang Pilpres 2019 nanti. Bahkan perbincangan di luar acara resmi pun tidak.

Ini sangat penting. Karena kita tentu menyaksikan, mengalami, bahkan menjadi bagian dari kekacauan media massa dalam Pilpres 2014 lalu, dan Pilkada DKI 2017 yang baru kemarin.

Dalam teori analisa wacana media, sangat betul media massa sejatinya adalah subyektif. Namun dalam pengertian subyektif bersama kebenaran. Bukan subyektif untuk siapa yang memodali, atau membayari.

Berkaca pada Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017, sangat ngeri membayangkan bagaimana “wanginya” media nanti. Berdarah-darahnya para jurnalis tataran menengah ke bawah untuk menekan idealisme masing-masing. Bagaimana mereka berusaha mati-matian menahan amarah menerima “arahan” dari kebijakan redaksi di atas sana.

Di sisi lain pasti ada pula jurnalis yang masa bodoh dengan keadaan, dan ikut tenggelam dalam lumpur politik pemilu. Dia tidak mau berpangku tangan melihat medianya kenyang sementara dia tidak.

Kesejahteraan jurnalis pun harusnya menjadi sorotan dalam peringatan Hari Pers Nasional. Setiap jurnalis yang memutuskan terjun dalam dunia jurnalistik, tentu menyadari tidak bisa menjadi kaya raya dalam profesi ini. Namun tidak seharusnya menjadi miskin papa.

Saat kebutuhan hidup menjadi persoalan, seringkali idealisme profesi menjadi barang gadaian. Inilah fakta yang terjadi saat ini, meski tidak bisa dipukul rata untuk semua jurnalis.

Bagaimana media berinovasi di era persaingan media, sebenarnya bukan persoalan. Sudah seharusnya setiap hari berinovasi. Bukan karena banyak persaingan kemudian baru memikirkan inovasi, bukan karena ada jenis media baru yang berkembang kemudian memikirkan inovasi.

Yang menjadi pokok sorotan adalah profesionalisme, independensi, dan kesejahteraan jurnalis. Titik. Sudahkah ada langkah maju di tiga hal pokok ini?

Seharusnya para wartawan senior yang ber-hahahihi di pesta Hari Pers Nasional kemarin itu memikirkannya bersama-sama.

Jadi Hari Pers Nasional ini sejatinya buat siapa? Apakah hanya menjadi ajang para wartawan senior, yang saat ini sudah menjadi petinggi media, untuk berkumpul dan bernostalgia dengan teman-teman lama. Kemudian bercerita masa susah dulu?

Jika memang seperti itu, sudah waktunya bagi para jurnalis junior untuk lempar handuk. Tidak ada lagi kehormatan sebagai jurnalis. Mari menjadi content creator saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here