Hidupku Tersisa 2 Tahun

0
119

“48 purnama lagi, 48 purnama lagi,” desah seorang pria kecil itu. Dia sedang duduk berselonjor di sudut dinding kamarnya, sambil menarik dalam asap rokoknya.

Kemudian dia menggerutu tidak karuan. “48 purnama itu berarti dua tahun, dua tahun,” ujarnya lagi. Kali ini sepertinya dia cemas.

Terlalu lama dia mengunci mulutnya, sedang waktu beranjak ke dini hari. Dia pun kembali mengulang-ulang perkataan sebelumnya.

“Kalian boleh menghinaku, kalian boleh mencibirku, kalian boleh mencelaku, kalian boleh melakukan apa yang kalian pikir layak untuk ditujukan padaku. Tapi camkanlah, aku tak kan bergeser satu depa pun,” tiba-tiba saja kalimat untuk meluncur dari bibirnya disertai hembusan asap.

“Kalian pikir aku hati ini tak sedih dengan ujaran yang terus kalian hujamkan padaku. Aku tak sama dengan kalian. Kalian lebih beruntung bisa hidup dengan sehat. Tapi aku…,” dia memotong kalimatnya sendiri.

Entah apa yang sedang dipikirnya. Penghinaan terdalam sepertinya sedang dirasakannya.

Dia sedikit saja beranjak dari sudut dinding itu, menggapai kopi hitam yang dibuat ibunya sore tadi. Sudah dingin memang. Tapi dia menyerumputnya sedikit.

Kembalilah dia menyandarkan tubuh kurusnya ke dinding itu. Tak banyak aktivitas yang dia lakukan.

“Si pelamun,” ujarnya lirih. Dia tertawa getir. Dia ingat itulah satu celaan yang pernah ditempelkan kawan-kawannya beberapa tahun lalu.

Apa ini? Tiba-tiba saja dia membakar selembar yang diambilnya dari sakunya. Selintas di kepala surat itu tertera kata Rumah Sakit.

Seketika saja kamarnya yang agak temaram itu bercahaya merah. Dia pun menunggu kertas yang dibakarnya menjadi abu. Beberapa kali api dinyalakan dari koreknya untuk kembali menyalakan api yang terhenti membakar kertasnya. Tak lama api pun sudah memberangus seluruh kertasnya.

Matanya beranjak ke peraduan yang terbungkus seprai yang bergambar logo salah satu klub sepak bola Liga Inggris.

Sambil menghela napas dia beranjak ke peraduannya dan berbaring. Di sela usahanya menutup mata, dengan kembali lirih dia berkata, “Hidupku tersisa dua tahun lagi kawan. Hargailah aku dan sikap yang ku pegang. Bismillah.”

Dia pun memejamkan matanya untuk kembali terbuka di pagi hari nanti. Kembali menjalani rutinitas di tiga tahun terakhir.

Mudah-mudahan hidupnya tak tersisa dua tahun lagi. Semoga Tuhan memberinya hidup 30 tahun lagi, atau kebahagiaan di sisa hidupnya. 30 tahun lagi usia yang cukup untuk mahluk yang bernama manusia.

Maka kisah ini pun ditutup dengan permintaan, “Berdoalah untuk dia kawan, berdoalah baginya”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here