Hiu Mengandung Merkuri, Tak Layak Konsumsi

0
235

WORLD Wide Fund for Nature Indonesia mengingatkan, hiu merupakan spesies yang tergolong dalam kategori terancam hingga mendekati kepunahan berdasarkan daftar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Hiu merupakan salah satu spesies penting yang berperan sebagai predator puncak pada piramida rantai makanan dalam ekosistem laut. Spesies ini menjadi perhatian karena populasinya di Indonesia kian terancam.

Dalam dekade terakhir, upaya perlindungan hiu di Indonesia semakin gencar dengan bukti nyata komitmen dari Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan segala bentuk promosi, konsumsi dan penjualan produk hiu di Indonesia karena adanya permintaan akan produk berbahan dasar hiu. Segala bentuk promosi tentang produk berbahan dasar hiu akan berpotensi meningkatkan permintaan dan konsumsi akan produk-produk berbahan dasar hiu.

Informasi yang menyebutkan adanya manfaat dari mengonsumsi bahan makanan dari hiu, menurut WWF sangat menyesatkan. Informasi kandungan nutrisi pada hiu yang selama ini berkembang di masyarakat tidak didasarkan bukti ilmiah.

Bulletin Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2009 menyatakan bahaya kontaminan merkuri terhadap kesehatan dimana ikan hiu memiliki kandungan merkuri tertinggi sebesar 1-4 ppm. Kontaminan merkuri yang masuk ke dalam tubuh manusia sebagian besar akan ditimbun dalam ginjal dan dapat mengakibatkan kerusakan pada susunan saraf pusat, ginjal dan hati.

Merkuri atau air raksa, kadang-kadang disebut juga ‘quicksilver’, merupakan satu-satunya logam berbentuk cairan yang mudah bergerak, mengkilap, mudah menguap pada suhu kamar dan tidak berbau. Jika dipanaskan, merkuri berupa gas tidak berwarna dan tidak berbau.

Unsur ini bereaksi dengan banyak logam (kecuali besi) membentuk amalgap, misalnya Cu-Hg dan Au-Hg. Merkuri dapat bereaksi hebat dengan asam nitrat pekat, asetilen, amonia, klorin menghasilkan senyawa yang peka terhadap benturan. Merkuri juga dapat bergabung dengan unsur lain seperti klorin, sulfur, atau oksigen membentuk senyawa atau garam merkuri anorganik.

Dengan karbon, unsur ini membentuk senyawa merkuri organik. Spesies senyawa merkuri organik yang paling umum adalah metil merkuri yang terbentuk terutama oleh organisme mikroskopik dalam air dan tanah.

Hampir semua jenis senyawa merkuri beracun dan pada kadar yang sangat rendah dapat membahayakan ekosistem perairan dan alam. Logam merkuri, terutama uapnya, merupakan jenis zat anorganik yang sangat berbahaya.

Sementara itu, metil merkuri merupakan salah satu senyawa merkuri organik yang paling toksik. Karena sifatnya yang lipofilik, senyawa ini dengan mudah diserap melalui kulit masuk ke tubuh hampir semua organisme hidup, dan mengakibatkan kerusakan saraf.

Merkuri bersifat persisten, dapat terbioakumulasi dalam makhluk hidup dan mengakibatkan peningkatan potensi bahaya pada spesies yang lebih tinggi seperti ikan predator, burung pemakan ikan, dan mamalia melalui suatu proses yang disebut biomagfinikasi.

Merkuri biasa digunakan sebagai katalis dalam pembuatan gas klorin dan soda api, cairan dalam termometer dan barometer, industri batere, lampu merkuri, peralatan listrik, amalgam (preparat untuk menambal gigi), dan juga digunakan dalam ekstraksi emas dan perak dari bijih tambang melalui proses amalgamasi. Praktik pemurnian emas semacam ini terutama dilakukan oleh penambang emas tanpa ijin di berbagai tempat (termasuk di lndonesia) menimbulkan masalah pencemaran lingkungan dan kesehatan.

Resolusi 5th lntergovernmental Forum on Chemical Safety (IFCS) di Budapest pada 15-19 September 2005, menempatkan merkuri sebagai salah satu logam berat (di samping timbal dan kadmium) sebagai prioritas  utama untuk dikendalikan oleh semua negara.

Bahaya Merkuri Terhadap Kesehatan

  1. Dalam bentuk logam, merkuri diperkirakan hanya 15 persen yang terserap tubuh manusia. Logam merkuri sebagian besar ditimbun dalam ginjal, ditemukan dalam otak, hati, dan janin dan mengakibatkan kerusakan  pada susunan saraf pusat, ginjal dan hati.
  2. Alkil merkuri dapat terakumulasi dalam jaringan karena sifatnya yang lipofilik sehingga ditimbun dalam  jaringan lemak, yang dapat menganggu DNA dalam sel dengan menghambat fungsi enzimatlk.
  3. Anak-anak lebih sensitif terhadap merkuri dibandingkan dengan orang dewasa. Merkuri yang terdapat dalam tubuh ibu dapat terakumulasi dan masuk ke janin. Bayi dapat terpapar merkuri melalui air susu ibu.
  4. Keracunan pada anak dapat berkembang menjadi masalah pada susunan saraf pusat, sistem pencernaan, dan kerusakan ginjal.
  5. Metilmerkuri bersifat teratogenik. Seperti pada kasus di Teluk Minamata, Jepang, sekitar tahun 1970-an, bayi yang lahir dari ibu yang mengonsumsi ikan yang tercemar metilmerkuri mengalami abnormalitas syaraf (neuorological abnormalities) termasuk retardasi metal -kemungkinan menyebabkan auitis- gangguan jalan (disturbances garl) gangguan pendengaran, gangguan bicara, gangguan indera penciuman, gangguan menelan, gangguan daya ingat, dan refleks yang tidak normal (tremor).  ‘
  6. Tidak cukup data bahwa semua jenis merkuri dapat menyebabkan kanker pada manusia. Merkuriklorida dapat menyebabkan peningkatan beberapa jenis tumor pada tikus dan mencit, dan metilmerkuri dapat menyebabkan tumor ginjal pada tikus jantan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here