Indonesia Sumbang Deforestasi Terbesar Kedua Dunia

0
307

ANGKA deforestasi hutan Indonesia diperkirakan sudah mencapai 30 juta hektare. Dari total deforestasi hutan dunia sebesar 148 juta hektare, negara terbesar yang menyumbang adalah Brazil setelah itu Indonesia.

“Dari tahun 1990-2005, Brazil sumbang deforetasi hutan sebesar 42 juta hektare, Indonesia 28 juta hektar. Sejak saat itu hingga kini, masih terjadi kerusakan, di luar gunung meletus atau tsunami. Mental attitude harus masuk, harus kita rombak dari mental yang merusak lingkungan ke alam berfikir yang mengutamakan ekologi,” ujar Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) saat konferensi pers Pra Orasi Ilmiah di Exlounge Kampus IPB Baranangsiang Bogor, Senin 11 Mei 2015.

Menurutnya, kita harus melaksanakan kebijakan yang sudah ditetapkan terutama tentang tata ruang. Hutan lindung yang dijadikan pemukiman, industri, ataupun properti kenapa diijinkan. Perlu peran moral attitude, intelektual emosial dan spiritual. Pulau Sumatera sebagai hotspot keanekaragaman hayati tertinggi di dunia harus dilindungi.

“Hampir 60 persen kawasan itu rusak, padahal kami sudah menempuh berbagai cara. Bahkan kami undang Harrison Ford untuk ikut menyuarakan ini, tetapi dampaknya masih belum kelihatan. Ujungnya adalah moral. Moral yang multilevel,” imbuhnya.

Lebih lanjut Prof Hadi mengatakan, Indonesia bisa mencontoh negara berkembang yang kini bisa menyejahterakan rakyatnya yakni Kosta Rika. Negara yang memiliki luas wilayah seluas Provinsi Jawa Barat ini membuat komitmen yang luar biasa setelah hutannya rusak hampir 100 persen. Mereka mengembangkan bisnis konservasi ekowisata pada tahun 1990, dan sekarang sudah menjadi negara makmur. Bahkan tidak ada tentara di sana. Kostarika hanya membutuhkan lima tahun untuk mencapai kemakmuran.

Pada tahun 2001, Menteri Dalam Negeri RI menerapkan sistem seperti yang diterapkan di Kosta Rika, yakni Otonomi Daerah (Otda). Dengan Otda diharapkan setiap kabupaten mempunyai konsep seperti Kosta Rika. Namun ternyata sumberdaya manusia (SDM) kita belum disiapkan, untuk itu diperlukan penguatan transformasi.

“Jika tidak segera dilakukan (moral attitude), maka 10 tahun lagi kita akan hancur. Susah kita fokus pada tiga dimensi, yaitu ketahanan pangan, energi, dan air. IPB bisakah mendorong itu, IPB cuma punya pengetahuan dan tidak punya kapasitas fisik,” tandasnya.
(hyk/IPB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here