Ini Rekaman Setya Novanto Catut Nama Jokowi

0
87

 

Ini Transkrip Setya Novanto Bicara Soal Jokowi
PENCATUTAN nama Presiden Joko Widodo dan Waki Presiden Jusuf Kalla oleh Ketua DPR Setya Novanto membuat geger khalayak. Apalagi pencatutan tersebut terkait perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia.
Pencatutan nama presiden dan wakil presiden diungkap oleh Menteri ESDM Sudirman Said, dan dilaporkannya ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR. Sudirman Said membawa bukti berupa rekaman pembicaraan antara Setya Novanto dengan Dirut PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin dan pengusaha M Riza Chalid.
Dalam persidangan etik MKD yang digelar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (2/12/2015), rekaman tersebut diputar.
Dalam rekaman terdapat suara yang diduga Setya Novanto. Novanto menyebut Presiden Jokowi memintanya berbicara dengan Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan soal PT Freeport. Novanto juga menyebut pernah bertemu dengan Menteri ESDM Sudirman Said dan berbicara soal perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia.
Berikut adalah sebagian transkrip rekaman percakapan antara yang diduga SN (Setya Novanto) dengan diduga MS (Maroef Sjamsoeddin) dan MR (Muhammad Riza Chalid).

SN: Saya itu Pak, sudah ketemu presiden. Waktu itu sampai ada lima pimpinan negara lainnya. Ada ketua MA, ketua KY, ketua MK. Saya bilang ‘Pak, Bapak ke Papua’. ‘Iya’ kata presiden. Padahal di sana enggak ada yang jemput, DPRD-nya, bupatinya, gubernurnya. Kesel juga. Soal PSSI macam-macam.

Saya bilang ‘Bikin itu saja istana di Papua’. ‘Setuju Pak’, kata presiden. ‘Masak ada Tampak Siring, Bogor, masak di sana tidak ada. Saya sudah lihat di sana ada tanah kosong, depannya laut. Jadi secara politis ke depan pasti ke sana’.

Semua manggut-manggut. Lagi seneng dia.

Freeport itu saya sudah ketemu Jim Bob, Dirutnya, saya minta dipertimbangkan. Waktu itu dengan menteri itu, soal perpanjangan itu (kontrak Freeport) kan DPR minta duduk (bersama). Sedangkan sekarang ada tiga hal. Kemarin menteri ESDM menemui saya di Surabaya, khusus bicara ini. Beliau (Menteri ESDM) bicara tiga hal.

Satu, penerimaan minta ditingkatkan. Kedua adalah privatisasi, permintaan itu 30 juta untuk 51%. Mana mungkin saya bilang gitu. Ketiga adalah pembangunan smelter.

‘Oh oke Pak Ketua. Kalau soal penerimaan saya enggak sependapat Pak Ketua. Karena kita itu paling hanya terima 7-8 triliun lah. Kita keluarkan dana untuk di Papua, Otsus itu, 35 T. Tidak imbang’.

‘Tapi kan itu udah dibantu CSR’.

‘Iya tapi tidak cukup Pak Ketua. Kita besar sekali’.

Kedua kalau smelter. Kalau bangun smelter, di sana lebih banyak rawa. Jadi khawatirnya waktu. Kalau lihat gitu saya lihat di Gresik ada smelter kecil yang tinggal diterusin. Terus di sana juga ada pabrik semen juga untuk pupuk. Yang penting kan pakai dana sendiri, tidak melalui dana perbankan kita.

‘Kita harus paksa supaya cepat-cepat dibangun’.

‘Ya kalau gitu’.

‘Habis itu baru Timika, Pak Ketua’.

‘Yang mana duluan Pak’.

Dia diam saja.

‘Yang ketiga, soal apa Pak Ketua’.

‘Soal penyerahan soal sahamnya itu, kan sudah 30% diminta 51%’.

‘Itu tidak mungkin Pak. Ini kan sudah berbagi dengan daerah yang 250 ribu Ha itu, susah juga. Kebayang juga dengan kabupaten lain. Ini tidak mungkin’.

Terus dia diam saja. Pak Luhut cuma bilang: kita runding.

Pas saya makan, presiden samperin saya. ‘Ini kan Pak Luhut. Itu apa Pak Luhut sudah bicara belum’.

‘Oh iya sudah Pak, Pak Luhut yang banyak memberikan pendapat’.

‘Bagusnya kalau bisa segera. Ngobrol-ngobrol itu’.

‘Oh iya sekarang Pak karena sekarang sudah waktunya’.

Lalu saya pulang. Saya mau rundingan dengan sama Pakā€¦.

Jangan-jangan ini karena yang dulu ada keributan antara anak buahnya Pak Luhut, Si Darmo dan si siapa itu, Sudirman Said diekspos. Ini minta diklirken. Saya akan ngomong ke Pak Luhut. Ya sudah. Makanya perlu ketemu itu. Hahahahaa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here