Jurnalis Tai Kucing

0
93
 Profesi jurnalis

SEBAGAI seorang jurnalis, adalah suatu kebanggan tersendiri ketika menerima tugas untuk melakukan peliputan di daerah konflik nomor wahid. Karena, jenis peliputan ini dianggap suatu pencapaian tertinggi dalam suatu prestasi jurnalistik. Padahal nyawa yang selembar di kandung badan, menjadi taruhannya. Belum lagi istri, anak, dan orang tua juga harus ikut kehilangan jika selembar nyawa jurnalis harus ikut melayang dalam zona konflik.

Tak pelak, banyak jurnalis senior merasa tak lengkap jika belom mencicipi peliputan daerah konflik.

Apa sih yang menjadi tujuan mereka? Apa sekedar ingin berprestasi? Dan lalu dengan bangga dicantumkannya di CV untuk dibanggakan ke rekan seprofesi, sanak kadang, atau yang paling utama untuk menjadi modal bargaining kesejahteraan kepada HRD media manapun?

Sejauh pengetahuan saya sebagai jurnalis tai kucing yang baru mencicipi kremes-kremesnya dunia jurnalistik, peliputan di daerah konflik memiliki tantangan sendiri. Di sinilah teori tetek bengek jurnalistik diujicoba.

Tantangan. Itulah yang dikejar para jurnalis senior. Seolah-olah mengejar eksistensi mereka sebagai seorang jurnalis. Selama ini itulah nyawa jurnalis yang saya pahami.

Tapi petang tadi, saya terkejut dengan kenyataan yang berbeda. Konsep pekerja media ini sudah bergeser, dari antikemapanan menjadi kenyamanan. Dalam arti, peliputan ke daerah konflik merupakan suatu kebodohan. Kebodohan untuk mengantarkan nyawa, kebodohan untuk meninggalkan orang yang kita cintai, kebodohan untuk hasil yang abstrak.

Di sini saya berpikir, konsepnya kini sudah bergeser ke arah materialistik. Tak jauh beda pola pikirnya dengan para pemilik media saat ini.

Jurnalis kini hanya pegawai kantoran yang tersasar ke dunia jurnalisme. Mohon maaf jika saya sebut sebagai hedonis. Tapi mohon maaf lagi, saya tak mau menjabarkan secara detil si hedonis yang gaya-gayaan bekerja di media.

SHARE
Previous articleTa-Ci-Pa-Pat-Re-Ra-He-Di-Ber-Su
Next articleKetika Pujangga Malam Membisu
Saya Harry, pemilik weblog sangharry.com. Seorang jurnalis sewajarnya. Suka dengan suasana malam, ditemani kopi hitam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here