Legenda Secangkir Kopi

0
159
Legenda kopi
Secangkir kopi, dan biji kopi

LEGENDA kopi lahir sejak 12 abad lalu di Ethiopia, Afrika Timur. Mulanya adalah kambing yang memakan buah bulat kecil berwarna merah dari rimbunan pohon yang tumbuh di semak-semak. Tiba-tiba kambing itu menjadi enerjik.

Melihat tingkah laku kambing peliharaannya, pengembala bernama Khalid menjadi penasaran. Setelah mengamati beberapa saat, dia melihat perubahan perilaku kambingnya karena telah memakan buah-buahan itu. Merasa penasaran dia ikut mencicipi. Seperti kambingnya itu, dia menjadi bertambah segar dan tidak capek.

Khalid akhirnya menceritakan apa yang telah dia makan pada istrinya. Melihat kondisi suaminya yang tampak segar bugar dan seolah tak pernah lelah, dia menyarankan memberi tahu seorang biarawan di kampungnya. Biarawan itu mengatakan buah yang dimakan Khalid adalah kiriman setan.

Untuk menghilangkan buah itu, mereka membakarnya. Tiba-tiba dari buah-buah yang dibakar itu menyebarkan bau harum ke mana-mana. Kepala biarawan segera menyuruh anak buahnya mengumpulkan buat misterius yang telah hangus itu. Dia menyuruh salah seorang biarawan untuk menyeduhnya dengan air panas. Dengan maksud untuk memusnahkan “buah setan”, seduhan air hitam itu dituangkan ke dalam cangkir dan diminum bersama-sama.

“Ajaib!” kata pimpinan biarawan. Mereka semua merasakan persis seperti yang dirasakan Khalid. Sejak itu, mereka memanfaatkan buat itu untuk berjaga di malam hari dalam rangka tafakur berdoa kepada Tuhan-Nya.

Legenda jejak mula kopi yang dibuat sebagai minuman kaya manfaat, tidak hanya di Afrika. Di jazirah Arab misalnya, melegenda dari seorang yang bernama Omar Darwis. Omar dikenal memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit dengan perantara doa dan obat-obatan. Namun kemampuannya tidak diterima semua orang.

Sampai akhirnya musuh-musuh Omar mengusirnya keluar dari Yemen, Mocha. Dia terdampar dalam pengembaraan di padang pasir yang kering dan panas. Saat badannya mulai tak berdaya, kematian makin terbayang dekat di depan mata.

Dengan perut kelaparan, dia berjalan terhuyung-huyung sampai kakinya yang telah gemetar menabrak rimbunan pohon di tengah padang pasir nan tandus.

Omar percaya semak belukar itu merupakan pertanda dari Tuhan. Setelah beberapa saat mengamati, dia mencoba memetik dan memakan buah bulat kecil berwarna merah dari pohon itu. Tak seperti yang dia kira, ternyata buah itu sangat pahit. Karena tidak ada makanan lain untuk mengganjal perutnya yang telah berhari-hari kosong, dia tetap mencari akal untuk mengolah buah-buahan itu.

Dengan peralatan seadanya dia memanggang buah itu dan memasukkannya ke dalam air yang mendidih. Dia pikir dapat dimakan seperti kacang, ternyata tetap saja rasanya pahit. Karena tidak ada lagi harapan, dia terpaksa meminum airnya saja.

Beberapa saat berselang, tiba-tiba dia merasakan kekuatannya pulih kembali. Minuman sihir Omar segera menggema di pelosok negeri. Banyak orang datang kepadanya untuk meminta air yang dianggap ajaib itu. Penguasa Mocha memanggil kembali Omar untuk pulang ke habitatnya dan dinobatkan sebagai orang suci.

Kabar tentang penemuan buah yang menimbulkan energi itu segera tersebar luas, dan tidak lama kemudian biji-biji kopi yang sudah dikeringkan menyebar ke seluruh jazirah Arab, di seberang Laut Merah.

Tanaman kopi yang dikebunkan pertama kali muncul di kawasan yang sekarang namanya Yemen, atau Yaman. Pada waktu itu, biji yang sudah dikeringkan dikunyah langsung dan ditelan. Ketika kebiasaan makan biji kopi sampai ke Turki, orang-orang Turki mulai memproses biji itu  dengan memanaskannya dalam tungku-tungku besi.

Biji yang sudah masak itu kemudian digiling dan dicampur dengan air panas, sehingga muncullah cara membuat dan minum kopi yang sekarang masih dipraktikkan di berbagai belahan dunia. Untuk menambah aroma dan kelezatannya, dicampur rempah-rempah, seperti kayu manis, jahe, dan biji adas.

Legenda kopi
Konon kopi terbaik berasal dari Yaman.

Kopi kemudian dibawa para pedagang Venesia ke Eropa, dan dalam waktu singkat menjadi minuman populer. Paus Vincent III, kepala gereja Katolik di Roma, yang dilaporkan sangat suka akan minuman itu, kemudian menyatakan sebagai minuman umat Kristen sesungguhnya.

Warung kopi bermunculan di banyak negara Eropa, dan sekaligus menjadi pusat pertemuan para kaum cerdik pandai. Tanaman kopi yang pertama dibawa ke benua Amerika oleh seorang tentara Perancis sekitar tahun 1700-an. Tanaman itu mula-mula dikembangkan di Pulau Martinique di Karibia, dan setengah abad kemudian pulau itu dipenuhi oleh tanaman kopi, yang hasilnya diekspor ke Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Di Salerno, Italia, kopi telah dikenal pada abad 10. Setelah itu berlanjut dengan pembukaan kedai kopi bernama Botega Delcafe pada tahun 1645 yang kemudian menjadi pusat pertemuan cerdik pandai di negara pizza tersebut.

Di kota London, coffee house pertama kali dibuka di George Yard, Lombat Street. Di Paris, kedai kopi dibuka pada tahun 1671 di Saint German Fair. Sedangkan di Amerika, dijadikan sebagai minuman nasional, dan menjadi menu utama di meja-meja makan pagi.

Meskipun perkembangannya begitu pesat pada abad-abad itu, tetapi orang-orang Arab telah lebih dulu memonopolinya sebagai tanaman, dan mereka hanya mengekspor yang sudah digoreng atau digongseng.

Kedai kopi menjamur
Kopi mulai ramai menjadi teman berbincang, kedai pun menjamur.

Terdampar di Indonesia

Penyebaran tumbuhan kopi ke Indonesia dibawa seorang berkebangsaan Belanda pada abad ke-17 sekitar tahun 1646 yang mendapatkan biji kopi arabika mocca dari Arabia ke Jakarta. Arabika pertama ditanam dan dikembangkan di sebuah tempat di timur Jatinegara, yang menggunakan jasa partikelir Kesawung yang kini lebih dikenal Pondok Kopi.

Kemudian arabika menyebar ke berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Bogor, Sukabumi, Banten, dan Priangan, melalui sistem tanam paksa. Setelah menyebar ke Pulau Jawa, tanaman kopi kemudian menyebar ke daerah lain, seperti Pulau Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Timor.

Dalam sejarahnya, Indonesia bahkan pernah menjadi produsen arabika terbesar di dunia, walaupun tidak lama akibat munculnya serangan hama karat daun. Serangan hama yang disebabkan cendawan bemileia vastatrix tersebut menyerang tanaman kopi di Indonesia sekitar abad ke-19.

Meskipun demikian, sisa tanaman arabika masih dijumpai di kantong penghasil kopi di Indonesia, antara lain dataran tinggi Ijen, Jawa Timur, tanah tinggi Toraja, Sulawesi Selatan. Serta lereng bagian atas pengunungan Bukit Barisan, Sumatera, seperti Mandailing, Lintong dan Sindikalang di Sumatera Utara, dan dataran tinggi Gayo, Aceh.

Cafe kopi
Jamuan kopi di sebuah kafe.

Kopi Luwak Itu Mitos?

Luwak, atau dalam bahasa Indonesia disebut musang, tak mau kalah dengan Khaldi dan Omar Darwis yang turut menggoreskan legenda tentang kopi. Indonesia dikenal sebagai produsen kopi terbaik di dunia atas prakarsa Luwak ini. Bila Anda aktif berselancar di dunia maya menjelajahi berbagai situs, maka akan banyak bertemu berbagai penawaran kopi Luwak ini dengan harga selangit.

Menurut Mark Hanusz, mantan pegawai bank asal Switzerland yang sudah menetap di Indonesia, dalam bukunya berjudul A Cup of Java, terbitan Equinox Publishing, Jakarta, Luwak memilih buah kopi yang paling baik dan paling harum. Oleh karena biji kopi keras, maka dia tidak dapat mencernanya di dalam perut.

Saat Luwak mengeluarkan kotoran, biji yang dimakannya akan keluar bulat-bulat dan bersih dari kulitnya. Para petani yang mengumpulkan kotoran Luwak ini, kemudian mencucinya untuk dijual. Meski prosesnya terkesan menjijikkan, namun harga kopi ini paling mahal.

Kopi Luwak tak hanya populer di Indonesia saja. Kopi yang keluar bersamaan kotoran musang ini telah menjadi kelas dan gaya hidup mewah di Eropa.

Merasa diusik penasaran, Mark Hanusz mulai melakukan penjelajahan ihwal lahirnya kopi Luwak. Anehnya selama melakukan penelusuran dia selalu terganjal oleh data-data dan sumber informasi yang tidak akurat.

Dia pernah bertanya kepada orang-orang Amerika yang menjual kopi Luwak. Namun, tak seorangpun bersedia memberitahu dari mana mereka memperoleh pasokan kopi Luwak ini, dan di mana sebenarnya kopi jenis ini diproduksi. “Mereka selalu bilang itu secret, rahasia,” kata Mark Hanusz.

Hanusz, yang sangat ingin memotret bagaimana Luwak memakan biji hitam itu, sempat berpikir sebenarnya para pedagang itu tahu letak kawasan yang memproduksi kopi Luwak ini, namun benar-benar tak mau memberitahu. Akhirnya Mark Hanusz memutuskan untuk serius meneruskan perburuannya mencari kopi Luwak di tanah asalnya, Indonesia. “Saya cari selama tujuh bulan dan bertanya pada hampir 70 orang,” katanya.

Perjuangannya belum membuahkan hasil. Hanusz hanya bertemu beberapa orang yang yakin menceritakan, pada 1950-an kopi Luwak yang legendaris itu memang ada. Namun mereka juga mengatakan kopi jenis ini sudah tak lagi eksis lagi sekarang.

Dalam proses pencariannya, Hanusz hanya menemukan kopi dengan merek dagang “Kopi Luwak” di Semarang. Tapi, kopi itu bukanlah yang berasal dari hasil olahan Luwak, sebagaimana dikisahkan turun-temurun. Produsen menamakan produknya Kopi Luwak karena kualitas biji yang dipakai termasuk bagus.

Tak hanya penelusuran lapangan yang hasilnya nihil. Penelusuran literatur yang dilakukan Mark Hanusz pun tak berbuah. Hanusz tak mendapatkan literatur terpercaya yang menerangkan secara jelas di mana kopi Luwak diproduksi. Kopi Luwak hanya muncul dalam sebuah literatur berbahasa Belanda pada 1930-an.

“Dalam literatur itu hanya diterangkan bahwa kopi Luwak dikonsumsi kalangan keraton di Solo,” kata Mark Hanusz. Jadi, sampai sekarang Mark Hanusz belum percaya bahwa kopi Luwak benar-benar eksis. “Sampai sekarang kopi Luwak itu saya anggap sebagai mitos,” katanya. Padahal kalau benar, kopi jenis ini bisa jadi bisnis besar.

Luwak dan kopi
Luwak memilih biji kopi matang

Kopi dan Kesehatan

Dari seorang petani miskin, konglomerat kelas kakap, menteri, raja, sampai presiden telah dibuat tidak berdaya oleh nikmatnya secangkir kopi. Namun rasa enak yang luar biasa ini ternyata dapat juga meninggalkan kenangan tak enak.

Menurut analisis kedokteran, biji hitam itu mengandung sejenis senyawa kimia xantin. Turunan senyawa ini meliputi, kafein, teofilin, dan teobromin. Namun kopi hanya mengandung kafein. Kafein bisa menimbulkan perasangan terhadap susunan saraf pusat atau otak, sistem pernapasan, serta sistem pembuluh darah, dan jantung.

Karena itu jangan heran kalau setiap minum dalam jumlah wajar, satu hingga tiga cangkir per hari, tubuh kita terasa segar, bergairah, daya pikir lebih cepat dan menjadi tidak mudah lelah atau mengantuk. Dampak positif ini menyebabkan orang menjadi sulit lepas dari minum kopi.

Kafein juga dijadikan salah satu bahan pelengkap pada obat sakit kepala. Alasannya, kafein punya kemampuan mempersempit pembuluh darah ke otak, sehingga pelebaran pembuluh darah di daerah otak yang menjadi penyebab sakit kepala bisa ditanggulangi. Kopi juga bisa menjadi obat migrain bila diminum dengan dosis dan aturan tertentu.

Sayangnya, kebiasaan minum ini bisa menimbulkan efek “kecanduan”, baik secara psikologis dan fisiologis. Ciri umum ketergantungan antara lain, rasa lelah, lesu, dan mengantuk kalau sehari tidak ngopi. Konsumsi yang wajar adalah sebanyak satu hingga tiga cangkir sehari.

Akan tetapi, bila dalam sehari mengonsumsi lebih dari itu, dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Seperti, jantung berdebar, rasa gelisah, gugup, insomnia, tremor, bahkan mual dan muntah-muntah. Itulah secangkir kopi yang telah membius banyak orang. Dengan berbagai manfaat dan mudaratnya, bubuk hitam itu akan terus melegenda selama peradaban manusia ada.

Sejarah Singkat Perkembangan Kopi

Tahun 850 M. Penemuan biji kopi dikenal pertama kali melalui legenda seorang yang bernama Khalid yang kambingnya memakan buah kopi.

Tahun 1100 M. Untuk pertama kali pohon kopi ditanam di semenanjung jazirah Arab. Pengolahan kopi dilakukan dengan cara direbus.

Tahun 1475 M. Warung kopi dibuka pertama kali di Constantinople. Diikuti oleh penetapan dua coffee hauses tahun 1554.

Tahun 1600 M. Kopi masuk Eropa melalui pelabuhan Venice. Warung kopi dibuka pertama kali di Eropa tahun 1654.

Tahun 1607 M. Kopi diperkenalkan kepada Dunia Baru oleh Kapten John Smith, pendiri Virginia di Jamestown.

Tahun 1652 M. Pertama kali warung kopi dibuka di Inggris. Warung ini dikenal dengan “penny universities” atau universitas satu sen dolar, karena untuk masuk ke dalam harus membayar satu sen untuk secangkir kopi. Edward Lloyd membuka warung kopi itu pada 1688.

Tahun 1672 M. Pembukaan cafe pertama kali di Paris, tahun 1713. Raja Louis XIV dihadiahi pohon kopi.

Tahun 1683 M. Warung kopi pertama dibuka di Vienna. Orang Turki, yang kalah dalam pertempuran, meninggalkan kantong-kantong kopinya di belakang.

Tahun 1690 M. Belanda menjadi negara pertama yang menanam kopi secara komersial. Belanda menyelundupkan kopi keluar dari Pelabuhan Mocha di Arab dan mengirimnya ke Srilanka dan India Timur untuk ditanam.

Tahun 1721 M. Warung kopi pertama kali dibuka di Berlin, Jerman.

Tahun 1723 M. Pabrik kopi diperkenalkan di Amerika untuk ditanam. Gabriel de Cileu, petugas kelautan dari Perancis, mengangkut bibit kopi ke Martinique. Sebanyak 1920 juta bibit ditanam di atas pulau itu.

Tahun 1727 M. Industri kopi Brazili mendapat semaian bibit dari penyelundupan bibit kopi yang keluar dari Paris.

Tahun 1750 M. Salah satu warung kopi di Eropa bernama Cafe Greco, membuka outlet di Roma. Pada 1763, Venice mempunyai 2.000 warung kopi.

Tahun 1822 M. Protipe mesin espresso untuk pertama kali diciptakan di Perancis.

Tahun 1855 M. Suatu proses menggunakan gas alam dan udara panas menjadi metoda yang populer memanggang kopi.

Tahun 1900 M. Kaffeeklatsch, Kopi Sore, menjadi populer di Jerman.

Tahun 1905 M. Italia menghasilkan lebih dahulu mesin komersial espresso.

Tahun 1908 M. Melitta Bentz seorang ibu rumah tangga dari Dresden, Jerman, menemukan saringan kopi untuk pertama kali.

Tahun 1933 M. Dr Ernest Illy mengembangkan lebih dahulu mesin espresso otomatis.

Tahun 1938 M. Nescafe kopi instan ditemukan pertama kali oleh perusahaan Nestle, dalam rangka membantu pemerintah Brazil mengatasi masalah surplus kopinya.

Tahun 1945 M. Achilles Gaggia menyempurnakan mesin espresso dengan suatu piston yang dapat menciptakan tekanan tinggi untuk menghasilkan suatu lapisan cream tebal.

Tahun 1991 M. Caffe Carissimi Canada, suatu jaringan espresso penyedia jasa layanan dibentuk di Kanada, melakukan kunjungan ke Franco Carissimi untuk memeragakan peralatan memanggang dan peralatan pabrik. Jasa layanan itu tumbuh cepat dengan jaringan pribadi dan independen sebagai penyedia mesin otomatis hebat di Kanada.

Tahun 1995 M. Kopi adalah hidangan yang paling populer di dunia. Lebih dari 400 miliar cangkir kopi dikonsumsi tiap tahun.

Note: Ditulis ulang dari artikel berjudul sama, majalah bulanan Insani, Juli 2004, hal. 116-127.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here