Lorong Waktu Lasem

0
33
Omah Ombo Lasem
Gerbang depan omah ombo di Lasem. (Foto: repro Reader’s Digest Indonesia)

PINTU rumah berumur lebih dari 300 tahun itu terbuka. Dari dalam muncul seorang perempuan tua -sangat tua- berambut putih, berkebaya lusuh dengan sepasang mata yang tampaknya terserang katarak. Tubuh kecilnya seolah berada dalam posisi menyapu pekarangan, membungkuk sangat dalam, membentuk sudut 45 derajat. Ternyata saya salah, itulah postur tubuh yang sebenarnya.

Dengan langkah tertatih dia menghampiri saya yang berdiri terpaku, takjub melihat penampakannya. “Masuk, masuk, Den. Ngobrol sama Nyonyahe di dalam saja,” tangan keriputnya menggamit lengan saya.

Di halaman belakang sudah menyambut Nyonyahe, seorang wanita Tiongkok yang umurnya saya taksir tidak lebih muda dari sang pembantu renta. Bedanya, dia dibantu tongkat kayu untuk menyangga tubuhnya yang juga bungkuk. Seekor anjing menyalak galak di belakangnya.

“Sini, Nyo, temani aku duduk-duduk,” katanya bersahabat sambil menyuruh saya duduk di atas sebuah dipan kayu. Di sekeliling saya benda-benda kuno berusia ratusan tahun seolah berucap sugeng rawuh di pekarangan belakang rumah Nyonyahe.

Pintu besar berwarna hijau daun yang terbuat dari kayu jati, foto-foto keluarga hitam putih circa 1900, jam dinding kuno, kursi malam antik, lemari makan dengan ukiran halus luar biasa. Yang berumur di bawah seratus tahun ternyata hanya pembantu dan Nyonyahe. Mbok Mu’ dan Oma Gwat sama-sama lahir di tahun 1920.

Obrolan tengah hari bersama Oma Gwat adalah sebuah kebetulan. Tepatnya, bagian dari suatu kebetulan lain yang lebih besar. Jadwal pesawat jurusan Semarang-Surabaya yang tertunda dan sopir mobil sewaan yang buta jalan membuat saya tersesat di Pantura, sebelum akhirnya “terdampar” selama dua hari di Lasem, sebuah kota kecil antara Rembang dan Tuban.

Pemilik omah ombo, Oma Gwat
Pewaris omah ombo Oma Gwat (kiri), dan pembantu setianya Mbok Mu’ (kanan). (Foto: Repro majalah Reader’s Digest Indonesia)

300 tahun lalu, Lasem adalah kota pelabuhan penting di Pulau Jawa. Aroma nikmatnya candu dan kopi Lasem terkenal sampai ke Campa. Kehalusan batik tulis Lasem menjadi must-have item di kalangan noni-noni Belanda di Batavia. Tauke-tauke dari negeri seberang pun rela menjajal peruntungan dagang mereka di kota yang ukurannya tak lebih besar dari kompleks Gelora Bung Karno di Jakarta.

Sekarang, praktis hanya omah ombo, rumah tinggal bergaya arsitektur Cina-kolonial yang dibangun pedagang-pedagang Cina masa lalu, yang menjadi bukti kejayaan Lasem yang masih tersisa sampai sekarang.

Usai sarapan pagi di hari pertama saya di Lasem, saya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Seorang pedagang sayur di pasar kaget dekat losmen saya menginap menyarankan bertandang ke omah ombo Oma Gwat, karena “Rumahnya besar dan tua sekali, yang punya apa lagi.”

Di otak saya terbayang rumah seluas ratusan meter dengan seorang wanita renta yang terkapar di tempat tidur, bersuara lemah setengah berbisik. Kenyataannya, ditemani dua tandan pisang dan sebaskom air putih, Oma Gwat bercerita lancar tentang Lasem di masa lampau, keinginan anak-anaknya menjual omah ombo plus sebuah crime story versi Lasem yang menimpanya tahun lalu.

“Ini dia tempat abu leluhurku yang dicuri orang tempo hari.” Di ruang tengah omah ombo terdapat sebuah meja tempat pemujaan dewa-dewi terbuat dari kayu yang saya taksir umurnya tak kurang dari 200 tahun. Di atas meja tampak tempat abu yang Oma Gwat maksud, sejenis wadah yang terbuat dari perak penuh ukiran dengan hiasan niaga dalam posisi menyerang musuh.

Menurut Oma, seorang tukang kebun part-time di omah ombo mencurinya suatu siang dan melarikan si bokor perak lengkap dengan abu leluhur ke Semarang. Seorang penadah barang antik hampir saja membeli tempat abu jenazah itu dari si tukang kebun sebelum menyadari masih ada abu berumur ratusan tahun di dalamnya.

“Akhirnya tetap tidak ada yang mau beli meski abunya sudah dibuang oleh si pencuri. Si pembeli takut kena kutukan dari leluhurku,” kata Oma sambil mengelus-elus si tempat abu antik.

Hebatnya, seorang ahli barang antik mengenalinya sebagai warisan turun temurun sebuah keluarga kaya raya di Lasem zaman dahulu. Berkat kerja sama pihak kepolisian Semarang dan Lasem, bokor itu kembali ke tangan Om Gwat minus abu leluhur yang sudah dilarung entah di mana.

Selama percakapan berlangsung, Mbok Mu’ bolak-balik di hadapan kami mengerjakan beragam pekerjaan rumah termasuk menjerang air dan membersihkan lemari. Benar-benar sebuah pemandangan menyedihkan yang berusaha keras saya hindari.

Apalagi ketika menyaksikan usaha Mbok Mu’ membersihkan lemari jati dengan lap basah. Tangannya hanya sanggup meraih sepertiga bagian bawah lemari. Sementara katarak membuat matanya tidak bisa membedakan antara bagian yang sudah dibersihkan atau belum.

“Sejak umur 13 tahun dia sudah bekerja di sini dan menjadi teman saya bermain waktu remaja. Beberapa tahun lalu saya sudah suruh Mu’ pulang kampung ke Rembang, eh dia ndak mau,” celoteh Oma Gwat seolah membaca keheranan saya terhadap kesetiaan tanpa reserved dari sang pembantu rumah tangga.

Mbok Mu’ yang tidak pernah menikah itu akhirnya menyelesaikan pekerjaan membersihkan lemari dalam waktu 20 menit. Bagian atas lemari tampak tetap kotor dan berdebu.

Bagi saya, tubuh bungkuk Oma Gwat dan Mbok Mu’ adalah refleksi kehidupan di Lasem yang sesungguhnya. Semua sendi kehidupan berjalan serba lambat dan tertatih-tatih. Kota tua ini tidak memiliki komoditas andalan yang bisa dimanfaatkan untuk bersaing dengan tetangga-tetangga mereka, semisal Rembang dan Tuban.

Lulus SMP, sebagian besar remaja Lasem memilih hengkang dari tanah kelahiran dan melanjutkan sekolah di Rembang, Jepara atau Semarang. “Anak kulo milih jadi penjaga toko di Semarang daripada membatik seperti ibunya. Ndak modern dan bayarannya kecil,” kata Suryani (60), satu dari 30 pembatik di perusahaan batik tulis Purnomo yang saya kunjungi sepulang dari rumah Oma Gwat.

Berbekal canting di tangan kanan, selembar batik sutera di tangan kiri, wanita yang mengikuti jejak nenek dan ibunya menjadi pembatik sejak 40 tahun lalu itu, tampak sangat nyeniman di mata saya. Dengan upah Rp10.000 per hari, hidup sebagai pembatik tulis di Lasem tentu tidak akan terasa berat. Jadi untuk apa berlelah-lelah menjaga toko milik orang lain yang jaraknya puluhan kilometer dari rumah?

“Mereka mencari keramaian, bukan sebuah pekerjaan yang mengharuskan mereka duduk selama delapan jam setiap hari, berhadapan dengan kain dan cairan malam.” Kali ini Purnomo, si pemilik pabrik batik yang curhat ke saya.

Sama seperti Suryani, pria berusia 50 tahun ini adalah generasi ketiga dari sebuah keluarga yang menjadikan industri batik mata pencaharian mereka sejak 150 tahun lalu. Tidak satu pun dari keempat anaknya yang tertarik meneruskan bisnis keluarga itu. Seorang dari mereka malah memilih menjadi pekerja kemanusiaan di Timor Leste dan hanya mengunjungi Lasem setahun sekali.

Perajin batik tulis Lasem
Perajin batik tulis Lasem di pabrik batik Purnomo. (Foto: Repro majalah Reader’s Digest Indonesia)

Jika alasan mereka adalah mencari kehidupan yang lebih ramai dan modern, keputusan anak-anak muda Lasem untuk keluar dari kampung halaman memang tepat. Bagi seorang wisatawan dadakan seperti saya saja, tidak ada yang menarik di kota ini selain puluhan omah ombo yang menyisakan keindahan arsitektur dan interior kuno di dalamnya.

Mendengar kisah-kisah unik para penghuninya adalah bonus mengasyikkan tapi tidak boleh terlalu berharap, karena tidak semua orang adalah stroy teller andal seperti Oma Gwat. (Seorang pemilik omah ombo lebih antusias menceritakan prospek bisnis sarang burung waletnya ketimbang mengenang masa kecilnya di omah ombo).

“Kalau mau cari yang rame-rame, ya, dolan saja ke alun-alun,” begitu saran seorang teman yang saya SMS perihal kunjungan tak terduga saya ke Lasem. Apa yang lebih reliable dibanding saran dari seorang sahabat?

Selesai berkeliling kota, yang hanya makan waktu sekitar lima menit dengan mobil, saya pun meluncur menuju alun-alun Lasem, sebidang lapangan kecil di dekat satu-satunya  perempat jalan di kota itu yang dikelilingi kedai bakso, bakso dan bakso. Orang-orang mengerumuni dua penjual VCD yang sangat bersemangat menawarkan barang-barang dagangan mereka, mulai dari The Best of Jamrud sampai The Best of Jenna Jameson.

Total waktu yang saya habiskan di alun-alun: 10 menit. Lasem by night saya teruskan dengan berjalan kaki sepanjang jalan raya Lasem, menghirup udara malam bebas polusi dan mampir di sebuah warung kopi yang cukup ramai. Pengunjungnya adalah orang-orang marjinal yang berusia jauh lebih muda daripada Oma Gwat, Mbok Mu’, Ibu Suryani dan Pak Purnomo.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke Lasem, saya merasa kembali menjejak bumi, berinteraksi dengan orang-orang sebaya di tempat yang tidak terlalu asing. Kaus dan sarung sepertinya dress-code wajib di kedai itu.

Tua muda menyeruput kopi atau teh nasgitel dengan nikmat, ditemani berjenis-jenis camilan yang terasa sangat keras ketika saya gigit. Sesekali mata mereka menatap heran (atau curiga?) ke arah saya. “Jalan-jalan kok ke Lasem mas? Cari apa di sini, isinya cuma bangunan tua thok,” kata seorang pria berumur 40-an sambil melihat-lihat kamera yang saya bawa.

“Lho bapak sendiri enggak ikut merantau ke Semarang seperti yang lain?” saya balik bertanya. “Seumuran saya bisa kerja apa di sana? Lebih baik bertahan di sini, biarlah anak saya yang memperbaiki taraf hidup di kota lain.”

Percakapan dengan pengunjung warung yang lain juga tidak jauh beda. Agus (34), bekerja sebagai tukang pijat sehat yang melayani pengunjung losmen tempat saya menginap. Penghasilan Rp50.000 setiap minggu, dirasanya sangat cukup untuk menghidupi seorang istri dan empat orang anak. “Setahun sekali, saudara saya dari Malang mengirim uang Rp100.000, saya pakai untuk membeli baju baru anak-anak.”

Tiba-tiba secangkir kopi di hadapan saya terasa sangat pahit. Kemana larinya semangat hidup di kota ini? Mereka yang bertahan di Lasem ternyata sekumpulan orang-orang pasrah yang rela menjalani hidup lamban minim kemajuan sambil sesekali menikmati kisah dunia modern dari sopir-sopir truk malam dan sanak famili yang pulang kampung.

Saya jadi urung “memarahi” generasi muda kota kecil ini yang tampaknya emoh menyelamatkan tradisi batik tulis halus dari kepunahan. Karena anak-anak muda itu realistis, memilih bekerja di bengkel, menarik ojek atau menjadi penjaga toko di kota lain asal bisa keluar dari cangkang masa lalu yang terus mengungkung Lasem.

Bagaimanapun juga, sudah saatnya saya bergerak keluar dari lorong waktu ini dan menjejakkan kembali di masa kini. Keesokan pagi, di mobil dalam perjalanan menuju Surabaya, letupan hati Pak Agus masih terngiang di telinga saya. “Ndak heran kalau 10 tahun lagi Lasem akan hilang dari peta Indonesia. Kami hanya punya rumah tua, bukan masa depan.”

Note: Ditulis ulang dari artikel berjudul Lorong Waktu, karya Primatmojo Djanoe. Telah diterbitkan di majalah bulanan Reader’s Digest Indonesia Volume 2 No.12 Desember 2004, halaman 68-73.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here