Manusia Malam Malang

0
108

Semua berawal dari sini. Kala aku dan teman lamaku bersua di atas bukit itu. Sebuah bukit yang kami namakan bukit penantian.

Ya. Di sinilah cerita kepeningan hakikat itu berawal.

“Kawan dunia ini kembali tak ramah,” sebut seorang sahabat dengan tiba-tiba, tanpa babibu lagi. Aku hanya tersenyum.

“Kawan…,” ujarnya lagi. Ia hanya menggantung apa yang akan dikatakannya.

“Dunia ini seperti apa bentuknya?” tanya dia. Aku hanya mengerenyitkan kening.

“Aku ini buta. Aku tak melihat satu dari ribuan titik-titik hidup seperti yang saat ini kau rasakan atau alami”.

Aku masih bingung dengan permintaannya, dia malah menyambung lagi.

“Coba kau jelaskan padaku, karena engkau mengaku tidak buta bukan?” desaknya.

Aku pun menjabarkan alphabet dunia sejauh yang aku ketahui. Hingga ludahku seolah habis berzikir ribuan kali.

“Mmmmmm…,” ia hanya menggumam. Aku semakin bingung.

Aku pun menjawab, “Ah… aku ini sebodoh-bodohnya manusia, mungkin jawabanku tak menuju pada titik yang kau harapkan”.

Setelah sekian lama terdiam, kawanku yang sebenarnya tidak memiliki kebutaan fisik ini, bersuara lagi dengan suara yang agak berat. Sepertinya apa yang ingin dikatakan kepadaku juga terasa berat. Tapi entah mengapa keringatku mengucur deras menunggu jawabannya. Sedang cuaca tidaklah panas.

“Kawan, kau ternyata masih buta,” ia menghakimiku langsung dengan kalimat yang cukup singkat.

“Apa sepasang mata yang Tuhanmu berikan sudah kau pergunakan dengan bijak bestari?”

“Bisa kau jawab?” tanyanya lagi.

Bayangan ingatan tentang kenakalan mataku berulangkali melintas. Aku pun tersenyum sendiri.

Ah, tidak ini serius. Aku harus cari jawabannya. Jawaban belum aku dapatkan, tapi sepertinya aku sudah lelah memikirkannya. Jujur, aku tak mampu menjawab.

Aku pun hanya diam. Ia pun diam. Cukup lama, hingga sudah terlalu. Sepertinya ia akan rela menunggu selama mungkin untuk menunggu jawabanku.

Akhirnya kita pun sama-sama terdiam. Alam sekeliling kami pun ikut membisu. Desau angin yang menyapu lirih sekali-kali, sedikit mengobati kebisuan. Tapi hanya sepersekian detik saja.

Kami sepertinya asyik dengan perenungan masing-masing. Mata kami juga mengikuti mulut kami. Kusebut ini terawang.

Aku harus pecahkan kebisuan, pikirku. Masa bodoh dengan isi atau bobot. Aku pun masih bodoh. Dengan sedikit tergetar, kuutarakan kalimat sekenanya.

“Sepertinya yang kau katakan, besar kemungkinannya benar adanya. Tapi aku tak bisa jabarkan dari sudut mana kebutaanku. Mungkin aku buta dari semua yang kau maksud,” tuturku.

“Jika memang ada perkenaan, bantu aku? Aku ingin membelalak apa yang berada di depanku!” pintaku.

“Aku tak bisa membantumu kawan,” jawabnya langsung. Sepertinya ia memang sudah mempersiapkan jawaban itu yang kali pertama akan keluar dari mulutnya. Jadi sekian lama membisu, rupanya dia hanya akan berbicara seperti itu. Terlalu.

“Aku tak bisa mengulurkan tangan. Karena aku pun perlu itu…,” lanjutnya.

“Lalu bagaimana baiknya?” potongku dengan keras.

Ah… pertanyaan bodoh. Aku mengutuk diriku sendiri atas pertanyaanku barusan. Seharusnya aku biarkan saja ia meneruskan perkataannya.

“Bunuh dirimu sendiri. Bunuh yang telah kau punya,” ujarnya tegas.

Hah??? gila dia. Jangankan membunuh diri. Membunuh mahluk hidup lainnya saja aku tak berani. Paling-paling aku membunuh ayam. Itu pun wajib membaca bismillah. Lalu dia meminta aku membunuh diri? Biar bodoh seperti ini, aku pun masih menyayangi selembar nyawaku.

Ah… Aku rasa ia terlalu lama menutup diri. Hingga tidak begitu logis lagi perkataannya.

“Jangan karena sensasi. Tapi raihan hakikilah yang akan membeliakkan matamu,” tiba-tiba ia melanjutkan perkataannya dan membuyarkan gumamku.

“Kau yakin dengan yang kau katakan?” aku pun mulai memberanikan diri mempertanyakan pernyataannya yang semakin membuatku tenggelam dalam kebingungan.

Sambil menatap dengan ekor matanya, kemudian ia melengoskan wajahnya dan berkata,”Jangan bicara keyakinan. Tidak ada yang lebih yakin dengan keberadaan kita selain yang mencengkeram nadi kita. Pikirkanlah? Jangan terlalu lama. Nanti kau mabuk. Bukankah sesuatu yang memabukkan, itulah yang menghancurkan.”

Aku tambah pusing. Kenapa menjadi semakin rumit seperti ini. Aku tak mampu menarik benang merah pertanyaanku dengan jawabannya.

Ingin tahu reaksiku atas perkataannya? Aku pun hanya menopang daguku. Dasar bodoh bukan?

Ia pun dengan perlahan mengangkat tubuhnya. Kedua tangannya menepuk-nepuk membersihkan debu yang mengotori bagian belakang celananya yang komprang itu.

Ia kembali berkata, “Aku pergi.”

Lho… ini belum selesai. Kenapa harus pergi? Apa karena aku tak merespon perkataanmu? Aku hanya bisa pertanyakan itu di dalam hati.

“Pesanku tataplah selama bisa kau tatap. Pikirlah selama pikiranmu mampu. Rasakanlah sampai kau jenuh. Berlarilah selama tungkai kakimu masih bertaut. Mengepaklah selama angin masih mengisi bumi ini. Berbicaralah selagi lidahmu masih menjulur,” ujarnya kemudian.

Selang tak lama, ia pergi dengan tergontai-gontai.

Apa ini? persoalan belum lagi selesai, dia sudah pamit. Dia yang mulai tema memusingkan ini. Kenapa juga dia yang menggantungkannya? Bagaimana dengan aku?

Aku hanya menatap punggung tubuhnya dengan diam. Tapi aku tak mampu menahannya. Berpikirpun aku tidak.

Tidak berapa lama tubuhnya dengan lekat pandanganku, semakin menjauh, mengecil, dan menghilang dari padang rumput yang selama seharian ini kami tongkrongi.

Sisa legok tanah yang ia duduki masih hangat hingga malam ini. Betul, aku masih berada di tempat yang sama hingga jauh malam. Tanpa menemukan titik temuku.

Jadi… Aku menghibur diri. Kususun kalimat tanpa pasti apakah ini kesimpulan obrolan gilaku dengannya.

Kemarin, dunia itu mimpi. Tapi bukan berarti sekarang sudah nyata. Sekarang masih abu-abu. Abu-abu???

Sementara ini, sepertinya itu yang logis.

Tidak ada bukan…???

Aduh, terlalu simpel.

SHARE
Previous articleKala Aku Kembali
Next articleDoa Minta Jodoh
Saya Harry, pemilik weblog sangharry.com. Seorang jurnalis sewajarnya. Suka dengan suasana malam, ditemani kopi hitam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here