Memoar Kecil Pengendara AKAP

0
79
Pengendara Antar Kota Antar Provinsi alias AKAP

SUDAH lama saya ingin menulis yang satu ini, tapi jari tak jua beranjak menemukan ritmenya. Kali ini saya coba menuturkannya.

Jarak perjalanan saya pulang-pergi kantor-rumah, sangatlah jauh. Kebetulan rezeki orang tua saya hanya mampu membeli rumah di daerah pinggiran Jakarta. Suatu tempat di antara Jakarta dan Bogor. Satu kali perjalanan saya biasa menempuh 40 kilometer dengan sepeda motor. Pulang-pergi saya menempuh setidaknya 80 kilometer. Jarak yang sangat melelahkan. Tak heran kawan-kawan di kantor sering meledek saya sebagai “Pengendara Antar Kota Antar Provinsi alias AKAP”. Tak heran daging di tubuh ini tak pernah bertambah. Hahaha…

Tapi tak apa, di perjalanan banyak yang bisa saya lihat. Mulai dari kemacetan, orang yang menyeberang seenaknya, pengendara yang terlalu santai hingga yang ugal-ugalan. Terkadang saya juga suka ikut-ikutan ugal-ugalan demi mengejar jam kantor. Hehehe…

Banyak kisah yang saya temui dalam perjalanan AKAP itu. Sayang sekali saya lupa. Tapi ada dua kisah yang sama yang sangat membekas di ingatan saya. Sebenarnya hanya sepele, tapi entah mengapa, saya menjadi terenyuh sekaligus malu dengan mereka.

Ini berkaitan dengan sangu (bahasa Jawa), atau bekal makan. Biasanya dibawa orang-orang dari rumah untuk disantap pada suatu waktu.

Kisah ini bermula ketika saya pulang kantor. Biasanya saya keluar kantor, ketika orang-orang biasa beranjak beristirahat di rumah, sekira pukul 21.00 WIB. Waktu yang umum bagi orang-orang di profesi ini.

Ketika perjalanan pulang, tak disangka cuaca malam yang sebelumnya cukup cerah mendadak hujan. Hujan, salah satu hal yang tidak saya sukai di perjalanan. Mau tak mau, saya harus menepikan motor butut saya ke pinggir jalan untuk berteduh. Saat itu ada beberapa orang yang berteduh di tempat yang sama dengan saya. Oh iya, saat itu saya berteduh di sebuah warung yang berada di Jalan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sekira satu jam perjalanan lagi ke rumah saya.

Saya tidak begitu memperhatikan beberapa orang itu. Seingat saya terdapat dua orang bapak yang tidak jauh dari tempat saya berteduh. Mereka berdua mengobrol ringan. Tak begitu jelas apa yang mereka obrolkan. Saya sendiri sibuk dengan sebatang rokok saya sambil menatap kendaraan yang menerobos hujan.

Hingga saya mendengar, seorang dari kedua bapak itu mengeluarkan bekal makanannya.

“Aduh lupa nih, saya bawa sangu, belum dimakan,” katanya.

“Ooo..,” timpal bapak satu lagi sambil tersenyum.

Saya sendiri sempat melirik. Sangu yang ditempatkan di sebuah wadah yang terbuat dari plastik.

“Nggak basi pak?” tanya bapak satu lagi kembali bertanya.

“Kayaknya sih. Hehehe…,” jawabnya. Walah, kalau saya sendiri mana mau makan makanan basi.

“Habis tadi siang belum sempat dimakan,” katanya.

“Kasihan istri kalau nggak dimakan. Makan pak?” ujarnya sambil menawari temannya ngobrol.

Tak berapa lama, obrolan itu terhenti. Si bapak yang membawa bekal basi itu pun sudah sibuk dengan sangunya.

Sebenarnya hujan belum berhenti, tapi cukuplah berkurang derasnya. Saya memutuskan untuk beranjak. Tidak hanya karena ingin segera sampai di rumah, tapi juga tidak kuat melihat contoh kehidupan terpampang di depan mata.

Di tengah perjalanan saya sendiri jadi resah. Gila ini bapak, makanan basi dimakan. Besar juga rasa penghargaannya kepada pengorbanan istrinya membawakannya bekal. Padahal jika dihitung, pengorbanan istrinya bisa dikatakan tidak seberapa, dan sudah menjadi hal yang biasa di kehidupan rumah tangga.

Lagipula, jika makanan basi itu dibuang, toh istrinya tak akan tahu. Tapi dia memilih untuk jujur dan memakannya, walau dengan resiko keesokan harinya bisa jadi dia tidak masuk, karena sakit perut atau diare karena memakan masakan istrinya yang sudah basi.

Luar biasa… kesetiaannya kepada istrinya tidak hanya kesetiaan di hati saja. Tapi dia laksanakan di keseharian. Wanita model apa yang bisa membuatnya setia di setiap sudut hidupnya. Ck ck ck…

Ternyata contoh kehidupan yang peroleh dari si bapak terulang sekali lagi. Peristiwanya hampir mirip, terjadi ketika hujan mendera. Namun waktunya jauh dari peristiwa si bapak. Saat itu saya melintas di Jalan Raya Bogor. Tapi hujan hanya gerimis, saya memutuskan tidak berteduh.

Kalau tidak salah, ketika saya melintas di daerah Cilangkap, sekira 10 menit dari Cibinong. Saat itu saya membawa motor dalam keadaan pelan dan berada tak jauh dari tepi jalan. Ada seorang pria, yang usianya saya perkirakan lebih muda dari saya.

Dia berteduh di sebuah warung yang sudah tutup. Lokasi warung sangat mepet ke jalan. Walau lampu di warung itu dimatikan, namun penerangan jalan masih mampu menyorot keberadaan si pria muda itu.

Dari balik kaca helm, tampak jelas di mata saya, pria muda itu berjongkok di ujung belakang motornya sambil memegang sebuah bungkusan. Dan saya tak salah lihat jika dia menyuapkan sesuatu dengan sendoknya ke arah mulut.

Walah, peristiwa sangu lagi! Di makan ketika malam! Apalagi ini?

Sepanjang jalan saya hanya bisa merenungi sekaligus kagum. Ibu manalagi yang membuat pria muda itu menyatakan kesetiaannya. Sekali lagi saya hanya bisa berkata di dalam hati, sangat luar biasa.

Dari kedua peristiwa itu, di hati ini, saya dengan lantang mengatakan dengan bahasa yang seru, kalian berdua merupakan pria luar biasa dengan didampingi wanita yang sangat luar biasa.

Mungkin peristiwa ini sangat sederhana bagi orang lain. Tapi buat saya, ini hal yang sangat istimewa. Sayangnya, saya hanya bisa mengagumi dua peristiwa itu, tanpa bisa mengaplikasikannya.

SHARE
Previous articleDoa Minta Jodoh
Next articleHidupku Tersisa 2 Tahun
Saya Harry, pemilik weblog sangharry.com. Seorang jurnalis sewajarnya. Suka dengan suasana malam, ditemani kopi hitam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here