Mimpi Tak Sekadar Bunga Tidur

0
0
Mimpi bukan bunga tidur
Mimpi bukan sekadar bunga tidur

TERNYATA mimpi yang kita alami dapat mempengaruhi kehidupan kita, begitu juga sebaliknya. Hal itu terungkap dari sebuah penelitian terbaru yang fenomenal.

Selama 11 tahun, seorang antropolog berusia 58 tahun mencatat hampir 5.000 mimpi yang dialaminya. Kemudian, dengan menganalisis pola warna dalam mimpi-mimpi itu, seorang ahli asal Arizona, Amerika Serikat, Robert Hoss, secara akurat memprediksi sejumlah hal yang terkait dengan kondisi emosional pria itu.

Hoss berhasil mengidentifikasi adanya perbedaan dalam kurun waktu dua tahun saat pria itu mengalami krisis dalam hidupnya. Setelah dikonfirmasikan kepadanya, pria itu membenarkan bahwa pada 1997 ia mengalami konflik dengann rekan kerjanya soal manajemen. Di tahun 2003 dia berkelahi dengan seorang teman yang meninggalkan emosional mendalam.

Bagaimana Hoss dapat menebak kekalutan pria itu? “Kuncinya terletak pada warna-warna yang nampak,” ungkapnya. Warna-warna yang mendominasi mimpi si antropolog itu adalah merah dan hitam, yang muncul saat ia mengalami masa-masa sulit. “Tanpa mengetahui kejadian yang ia alami, kita secara akurat dapat menentukan kondisi emosionalnya berdasarkan warna-warna dalam mimpinya,” kata Hoss menjelaskan.

Hoss merupakan satu dari sekelompok peneliti yang, berkat teknologi kedokteran yang canggih dann riset psikologi yang inovatif, mulai berusaha menyibak rahasia tersembunyi dalam mimpi kita dan perannya dalam hidup kita. Mengetahui beberapa hasil penemuan terbaru mereka dapat memberikan masukan baru bagi kita mengenai bahasa mimpi, dan membantu kita memanfaatkan waktu tidur secara optimal.

Mengapa Kita Bermimpi?

Mimpi merupakan cara berkomunikasi antara pikiran sadar dengan pikiran bawah sadar kita. Menurut para ahli, mimpi tentang hal yang membuat kita cemas adalah cara otak untuk membantu kita menelusuri kemungkinan adanya bencana yang pernah dialami sebelumnya.

Mimpi yang berisi tantangan, seperti presentasi di tempat kerja atau pertandingan olahraga, dapat meningkatkan performa kita. Para ahli saraf kognitif menemukan bahwa mimpi dan rapid eye movement (REM) –gerakan bola mata yang cepat- yang terjadi saat kita terlelap dalam mimpi ternyata berhubungan erat dengan kemampuan kita untuk belajar dan mengingat.

Mimpi merupakan “sistem pengatur mood,” ungkap Rosalind Cartwright, PhD, dekan Fakultas psikologi di Rush University Medical Center, Chicago, Amerika Serikat. Menurutnya mimpi membantu memulihkan kondisi emosional seseorang sehari-hari. “Fungsinya seperti terapis dalam diri kita,” kata Cartwright.

Saat kita tidur, mimpi membandingkan pengalaman emosional yang baru dengan memori lama yang tersimpan, sehingga tercipta pola seperti kotak-kotak, gambar-gambar lama menumpuk di atas yang baru.

Ia menganalogikan seperti ini, “Saat Anda bangun tidur, Anda mungkin berpikir, kenapa Paman Harry bisa ada di mimpi saya? Saya tidak pernah bertemu dengannya selama 50 tahun. Namun gambaran-gambaran lama dan baru itu sebenarnya berkaitan secara emosional.” Di sinilah tugas pikiran sadar kita, untuk menguraikan hubungan itu.

Bukan itu saja, emosi-emosi dalam mimpi dapat membantu terapis mengobati pasiennya yang pernah mengalami kejadian traumatis. Dalam sebuah penelitian yang mengamati 30 orang yang baru saja bercerai, Cartwright menelusuri mimpi-mimpi yang mereka alami selama lima bulan. Lalu ia menilai perasaan-perasaan mereka terhadap mantan pasangan masing-masing.

Hasilnya ditemukan bahwa mereka yang bermimpi sangat marah terhadap pasangannya ternyata paling sukses menghadapi perceraian. “Jika mimpi mereka biasa saja, mereka tidak akan menelusuri emosi mereka dan menghadapi perceraian,” kata Cartwright.

Bagi para terapis, penemuan ini dapat membantu menentukan apakah pria atau wanita yang mengalami perceraian itu butuh konseling atau sudah berhasil menyelesaikan persoalan mereka lewat mimpi.

Makna Mimpi Setiap Orang Tak Sama

Belum ada`satu alat pun yang memungkinkan para ahli menyelidiki isi mimpi saat kita tidur. Namun mereka telah menemukan cara baru untuk menginterpretasikannya saat kita bangun.

Abaikan konsep Freud soal mimpi yang mengandung gambar-gambar dengan arti yang universal. Generasi psikolog masa kini berkeras bahwa simbol-simbol dalam mimpi berbeda untuk setiap orang.

Dalam studi belum lama ini, profesor psikologi di Universitas of Ottawa, Joseph De Konick, meminta 13 relawan membuat dua daftar: daftar berisi detil yang terekam dari mimpi yang baru mereka alami dan daftar berisi kejadian-kejadian yang baru dialami. Saat para analis diminta untuk mencocokkan mimpi para relawan dengan pengalaman masing-masing, ternyata tidak ada relevansinya.

De Konick berkesimpulan bahwa mimpi yang dialami seseorang hanya bisa dipahami lebih baik oleh dirinya sendiri. Bahkan seorang psikonalis sekalipun tidak bisa memahami dengan baik. Karena bisa saja, dalam sebuah mimpi, sebatang cerutu hanya sekadar cerutu, sedangkan di mimpi lain, bisa berarti berbeda.

“Belum ada bukti bahwa mimpi memiliki simbol yang universal,” kata De Konick. “Saran saya, buang saja buku tafsir Anda jika benar-benar berniat mengartikan.”

Menguraikan Makna Mimpi

Kini, para psikolog menerapkan teknologi modern untuk meneliti isi mimpi. Hoss menggunakan komputer dengan program content analysis untuk menginterpretasikan warna-warna dalam mimpi. Lebih dari 80 persen orang mengalami mimpi yang berwarna, kata Hoss, namun hanya seperempatnya yang bisa mengingat warna-warna itu pada pagi harinya.

Untuk mengumpulkan data, Hoss menganalisis hampir 24.000 mimpi yang ada dalam katalog di dua database di University of California, Santa Cruz, dan Bridgewater State College, Massachussets. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa warna tertentu mewakili emosi tertentu. Misalnya, merah berarti aksi, kegembiraan dan gairah; biru berarti kesabaran, ketenangan dan keharmonisan; hitam berarti ketakutan, kegelisahan, dan intimidasi.

Namun, sekali lagi, semua itu tidak bisa diterapkan secara universal pada setiap orang. Ibaratnya, setiap pemimpi melukis dengan palet yang berbeda, sesuai dengan asosiasi mereka masing-masing. “Warna merupakan cara otak untuk melukis mimpi Anda dengan emosi,” kata Hoss yang telah mempublikasikan hasil penelitiannya dalam buku Dream Language.

Sejumlah ahli meragukan penggunaan komputer atau bahkan terapis untuk mengartikan mimpi seseorang. Psikolog Gayle Delaney, PhD, presiden pendiri International Association for the Study of Dreams, berpendapat bahwa sang pemimpi sendiri yang paling tepat untuk menginterpretasikannya. Dia mendukung teknik “dream interview” yang meminta orang untuk menjawab sejumlah pertanyaan langsung untuk mendapatkan petunjuk terhadap daya ingat mereka.

Di tempat praktiknya di San Fransisco, Delaney menggunakan proses tersebut untuk membantu mereka yang belum menikah menganalisis dan memahami hubungan romantis mereka lewat mimpi-mimpi.

Delaney menceritakan bahwa kliennya, seorang wanita, bermimpi pacar barunya berenang di laut. Di permukaan air, sang pacar tampak seperti anjing laut yang menggemaskan, namun di dalam air ia berubah menjadi hiu ganas.

Ketika wanita itu ditanya soal kepribadian pacarnya, ternyata sang pacar suka melakukan kekerasan. Kenyataan itu secara sadar selalu ia coba abaikan. “Jelas bahwa wanita itu mencurigai adanya sisi buruk dari sang pacar,” ungkap Delaney.

“Alam bawah sadar memberi lebih banyak petunjuk soal orang-orang dalam kehidupan Anda dibandingkan alam sadar Anda.” Wanita itu akhirnya memutuskan hubungan dengan pacarnya tak lama sesudah konsultasi.

Fungsi Mimpi Bagi Kita

Para psikolog sejak lama telah mengetahui bahwa orang dapat menyelesaikan permasalahan mereka di kantor maupun di rumah setelah tidur. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana melatih diri kita untuk memimpikan solusi permasalahan itu.

Deirdre Barrett, PhD, profesor asisten psikologi di Harvard Medical School dan editor jurnal Dreaming, menyarankan kita untuk memikirkan berbagai pertanyaan sebelum tidur. (Apakah saya sebaiknya memilih pekerjaan itu? Apakah saya sebaiknya menikahi pria/perempuan itu?) Dan membiarkan alam bawah sadar kita menyediakan jawabannya.

“Saya kenal banyak seniman yang mencari inspirasi hanya dengan memimpikan pameran seni mereka yang akan datang dan bangun tidur dengan berbagai ide lukisan baru,” ungkap Barrett. “Semakin hari semakin banyak orang mempelajari teknik-teknik seperti itu untuk mengontrol mimpi mereka.”

Sejumlah ahli percaya kita bisa memandu mimpi-mimpi kita saat sedang tidur. Beberapa tahun belakangan, Stephen LaBerge, PhD, memelopori cara untuk megarahkan alam bawah sadar lewat “lucid dream” atau “mimpi logis,” yaitu mereka yang sedang dalam tidur menyadari mimpi yang sedang mereka alami.

Mereka bisa mengalami petualangan fantasi –seperti terbang ke bulan, berjalan melintasi waktu- sekaligus sadar sepenuhnya bahwa mereka tengah bermimpi. “Hanya dengan mimpi yang logis, sudah bisa membangkitkan semangat seseorang,” ungkap LaBerge, psikofisiologis yang memimpin Lucidity Institute di Palo Alto, California.

Menurut LaBerge, mereka yang mengalami lucid dream dapat menggunakan pengalaman mereka untuk berbagai hal: memecahkan permasalahan, mengembangkan ide kreatif dan menyembuhkan diri.

Patricia Keelin, pembuat gambar peta berusia 55 tahun asal California Utara, telah menggunakan lucid dream untuk semua hal, mulai dari berbicara dengan almarhum ayahnya hingga makan berbagai makanan manis secara gila-gilaan. “Cokelat selalu terasa lebih nikmat dalam lucid dream karena saya tak perlu khawatir dengan kalorinya,” kata Keelin.

Meski tak jago berenang, Keelin sering menyelam saat menyadari bahwa ia tengah bermimpi logis. Di mimpinya itu, ia bisa menyelam ke dasar lautan tanpa harus takut kehabisan napas atau tidak mampu berenang. “Sangat menyenangkan karena seperti itu gratis dan tersedia untuk setiap orang.”

Tidak sepenuhnya gratis sih. Meski setiap orang berpotensi bermimpi secara logis, hal itu jarang terjadi secara rutin tanpa latihan khusus atau karakter tertentu. Lucidity Institute menggelar pelatihan-pelatihan untuk itu.

LaBarge bahkan mengembangkan sebuah alat bernama NovaDreamer yang bisa membantu seseorang untuk terlibat dalam mimpinya. Begitu alat yang menyerupai penutup mata untuk tidur itu mendeteksi bahwa si pemakai mengalami REM yang menandai saat seseorang bermimpi, maka alat itu akan mengeluarkan cahaya merah yang didesain bisa menembus mimpi seseorang.

“Seperti saat menonton sebuah opera, ada cahaya di waktu istirahat yang menandakan bahwa opera itu akan mulai kembali,” kata LaBerge. “Tanda itu berarti kita bisa mengalami kejadian apapun.”

Benar, mimpi kita ibarat film pribadi kita. Di film itu, kita adalah bintangnya, sutradaranya, sekaligus penulis naskahnya. Seperti hasil sejumlah penelitian belum lama ini, kita juga adalah kritikus film yang paling memahami film itu. Karena hanya kita yang paling mampu menginterpretasikan mimpi-mimpi kita sendiri.

Otak dan Mimpi

Satu abad setelah Sigmund Freud merintis bidang ilmu analisis mimpi, baru sekarang para ahli menelaah berbagai proses terjadinya mimpi secara biologis. Di Sleep Neuroimaging Research Program, University of Pitsburgh Medical Center, Dr Eric Nofzinger meneliti otak orang yang sedang tidur dengan menggunakan alat Positron Emission Tomography (PET) yang biasa digunakan untuk mendeteksi adanya kanker atau penyakit lain.

Dengan menyuntikkan glukosa radioaktif ringan ke objek penelitiannya, Nofzinger menelusuri sumber mimpi hingga ke sistem limbik, bagian otak primitif yang mengontrol emosi. Selama bermimpi sistem limbik tersebut berpijar seperti kembang api dengan aktivitas saraf, sehingga mimpi kita dibanjiri oleh drama.

“Itu sebabnya mengapa kebanyakan mimpi merupakan rentetan kejadian emosional, seperti kita sedang berlari menghindari bahaya atau menghadapi situasi yang menggelisahkan,” kata Nofzinger. “Bagian otak yang mengontrol mimpi itu juga mengarahkan insting, nafsu, keinginan seksual dan respon fight-or-flight kita.”

Sementara itu, bagian otak depan kita yang mengatur pikiran yang logis, akan menjelaskan mengapa mimpi sering merupakan kombinasi yang aneh antara kejadian-kejadian tertentu dengan berbagai orang.

Memanfaatkan Mimpi

Bagaimana caranya kita bisa lebih sering mengingat mimpi yang dialami dan mengartikannya dengan lebih baik? Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa kita ikuti.

Bentuk sebuah ide. Sebelum tidur, pikirkan secara sadar sebuah topik atau seseorang yang ingin kita bawa ke dalam mimpi. Tanyakan pada diri sendiri apa yang meresahkan, dan lihat bagaimana mimpi memberi jawaban. “Misalnya bayangkan bahwa kita bisa melakukan presentasi dengan sukses agar ide itu masuk ke dalam alam bawah sadar kita saat mengantuk,” anjur Dra Suhati Kurniawati, psikolog di Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia. “Saat terbangun, kita akan merasa lebih percaya diri karena sudah “berlatih” selama bermimpi. Ini dikenal dengan intuisi, pemecahan masalah yang cepat sekali seperti tidak dipikirkan, padahal hal itu dipikirkan terus di dalam otak.

Buat catatan. Letakkan buku dan pen di dekat tempat tidur, atau alat perekam untuk merekam mimpi kita sesaat setelah kita terbangun. “Khususnya untuk mimpi yang memiliki emosi yang tidak terlalu luar biasa bagi kita, segera catat agar tidak lupa,” kata Suhati. “Lama-lama kita akan terlatih untuk alert, tanpa harus dicatat lagi.”

Coba bangun tidur secara alamiah, tanpa menggunakan alarm atau bantuan orang lain yang dapat mengganggu siklus mimpi kita. Menurut Suhati, biasanya orang terbangun saat gelombang otaknya naik kembali, saat mimpinya hampir berakhir, sehingga masih bisa mengingat mimpinya yang terakhir. “Kalau bangun tidur tidak secara alamiah, kemungkinan ia bangun tidak di titik ia bermimpi sehingga ia pun tidak ingat pada mimpinya,” kata Suhati. Jika jadwal harian kita tidak memungkinkan kita bangun seperti, coba catat mimpi kita saat akhir pekan atau selama liburan.

Bangun dengan perlahan. Sesaat setelah bangun tidur, tetaplah berbaring sampai menutup mata, karena mimpi kita mungkin berhubungan dengan posisi tidur kita. Begitu beranjak dari tempat tidur, segera catat sebanyak mungkin gambar, perasaan dan impresi kita dalam mimpi itu.

Cari hubungannya. Untuk lebih memahami mimpi kita, buat hubungan antara mimpi yang berhasil kita ingat dengan kejadian-kejadian yang dialami. Mungkin kita mengenali seseorang dari masa lalu kita atau masa sekarang. Perhatikan apakah ada pola yang sama dalam beberapa mimpi yang dapat menjelaskan mimpi tertentu.

Ubah akhir mimpi. Jika kita mengalami mimpi buruk, coba ubah akhir dari mimpi itu. Sesaat kita terbangun, usahakan untuk menenangkan diri, kemudian visualisasikan perubahan yang menimbulkan hasil yang lebih positif. “Bayangkan sebuah penyelesaian yang bagus,” saran Suhati. Misalnya, jika kita bermimpi terjebak, bayangkan bahwa kita bisa terbang.

Bersabarlah. Mungkin kita memerlukan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu sebelum terampil mengingat mimpi-mimpi kita secara detil. Namun para ahli menyarankan untuk terus melatihnya. Ingatan akan mimpi sangat rapuh. Mencoba mengingat seluruh alur cerita dalam mimpi yang sangat rumit dan menguras emosi setiap malam bisa menimbulkan efek kumulatif.

Note: ditulis ulang dari artikel berjudul Mari Bermimpi karya Michael J Weiss, Reader Digest Indonesia edisi Juli 2006, halaman 60-67.

SHARE
Previous articleSi Tuan Jenaka
Seorang jurnalis, sedang suka dengan bossanova Jawa. Masih suka kopi murahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here