Pintar tapi Tidak Jujur, Akan Jadi Penipu

0
123
Pintar tapi penipu, siapa mau?

BEKERJA dengan ditemani suara musik yang berganti-ganti, rupanya cukup menyenangkan. Ya, kali ini di meja saya terdapat sebuah radio combo merek Philips yang menemani saya menguntai tulisan demi tulisan.

Sayangnya, saya tidak bisa berganti-ganti saluran. Pasalnya saya memang harus memanteng (bahasa apa ini, memanteng?) saluran ini. SindoradioFM namanya. Dahulu bernama TrijayaFM. Secara resmi baru berganti nama pada 12 September 2011.

Di SindoradioFM ini tidak hanya memutar musik saja. Namun juga berita. Formatnya memang berita layaknya Radio Elshinta, namun diselingi dengan musik. Musik-musiknya asyik didengar. Setidaknya untuk saya, dan rekan baru saya yang duduk persis di depan saya, Andina Meryani. Selera musik kamu kebetulan sama. Jadi tak ada masalah lah ketika radio itu tak pernah senyap, dan menemani kami menulis.

Masalah muncul kalau musik yang diputar SindoradioFM sangat disukai. Andina mengaku tak bisa konsentrasi menulis. Karena malah ingin bersenandung daripada menulis. Jadi ide menulisnya terbang entah ke mana. Hahahaha….

Oke itu sedikit selingan…

Malam ini saya masih di kantor. Waktu yang tertera di sebalah kanan bawah laptop saya pukul 10.20 WIB. Saya ingin menuliskan sesuatu tentang “Kejujuran”.

Ide ini muncul dari SindoradioFM yang memutar iklan layanan masyarakat dari Kementerian Pendidikan Nasional. Temanya “Kejujuran”. Tema ini mengingatkan saya atas hutang saya. Bukan hutang duit lho… tapi hutang tulisan.

Saya beberapa bulan lalu memiliki ide soal tulisan yang bertema pada “Kejujuran”. Tapi saya selalu lupa untuk menuangkannya. Lagipula saat itu saya sulit menemukan waktu luang untuk menulis di luar pekerjaan. Menulis tema-tema sosial biasanya memang saya lakukan di luar pekerjaan, agar nyaman otak ini membayangkan cerita-cerita sosial yang pernah saya lihat.

Sebuah kalimat penutup iklan ini yang membuat saya tertarik, dan ingat akan hutang saya itu. Kalimat itu saya jadikan judul tulisan ini. “Pintar tapi Tidak Jujur, Akan Jadi Penipu”. Seingat saya kalimat penutup iklan seperti itu, atau tidak jauh dari kalimat itu.

Menarik bukan? “Pintar tapi Tidak Jujur, Akan Jadi Penipu”.

Soal kejujuran ini mengingatkan saya pada beberapa bulan lalu. Saat itu, hari Jumat. Seperti biasa, pada hari Jumat, sudah menjadi kewajiban saya untuk Salat Jumat. Saya Salat Jumat tak jauh dari kantor. Kantor saya, Komplek MNC Tower, memang difasilitasi tempat beribadah. Masjid Bimantara namanya.

Sayangnya, saya ini bukan termasuk orang yang mengikuti ibadah dengan hikmat. Datang saat khatib berceramah, dan kongkow dengan beberapa kawan, di pinggiran pot di depan masjid.

Aduh saya lapar….

Waktu di laptop saya menunjukkan pukul 22.34 WIB. Berhenti dulu ya… Saya makan dulu. Nanti kita teruskan tulisan ini.

………………………….

Pukul 11.01 WIB…. Selesai makan, selesai menghisap rokok sebatang (kebiasaan buruk yang terus coba dihentikan)

Oke, kita lanjut…

Saya nongkrong di pinggiran pot bersama beberapa rekan kerja saya. Salah seorangnya Fitra Iskandar. Teman-teman biasa memanggilnya “Juragan”… 🙂 Kenapa dipanggil Juragan? Saya lupa kisahnya tuh…

Saat itu saya dan Juragan sedang mengobrol soal banyaknya anak kecil usia SD yang berjualan koran bekas untuk alas salat. Pembicaraannya ngalor-ngidul…

Para penjaja koran bekas ini selalu berjalan kesana kemari menjajakan korannya ke setiap jamaah yang baru datang. Umumnya yang terlihat tidak membawa sajadah. Agak sedikit riuh cara mereka menjajakan koran. Karena seringnya berlalu-lalang di depan saya, anak-anak kecil ini menjadi tema obrolan kami.

Ada salah seorang anak kecil yang menjadi perhatian kami. Mungkin di pikiran kami saat itu, si bocah kecil yang berperawakan kurus ini adalah bocah baik. Seorang anak kecil itu, tampak beberapa kali kalah dibanding temannya saat menawarkan korannya kepada para jamaah. Saya lihat, anak itu selalu mengalah. Saya selalu tersenyum kalau membayangkan ini.

Kalau tidak salah, Fitra sempat berkata, “Gila diserobot terus.” Sebagai ungkapan adanya ketidakadilan di situ.

Tapi anak itu tidak terlihat kecewa atau marah pada teman-temannya. Bicara soal hak, seharusnya saat itu adalah rezekinya. Namun tidak buat dia. Mungkin si bocah kecil itu berpikiran, soal rezeki sudah diatur Tuhan. Karena apa? Karena Tuhan itu Maha Adil.

Lalu, dia kembali berlalu-lalang lagi. Tidak begitu jauh dari depan kami. Ada sedikit bagian menarik yang membuat saya terinspirasi ingin menulis pada saat itu.

Saat itu area di dekat saya, hanya ada si bocah itu. Sedang teman-temannya berada agak jauh. Jamaah yang datang pun tidak begitu ramai lagi. Saya dan Fitra secara tak sengaja terus memperhatikan dia.

Tak berapa lama, ada dua bapak yang baru saja menaiki tangga, dan berada tidak jauh dari si bocah. Dia sibuk bicara sambil merogoh kantongnya. Si bocah kecil dengan perlahan. Iya, saya ingat betul, si bocah ini jalan tak terburu-buru. Dia mendatangi kedua bapak itu dan menawarkan koran bekasnya.

Si bapak ini mengulurkan tangannya untuk meminta koran yang akan dibelinya. Sedang tangan satu lagi masih sibuk mencari uangnya. Sementara kawannya, juga merogoh kantong. Hingga akhirnya si bapak menyodorkan uangnya kepada si bocah sebagai pembayaran. Si bapak membeli dua lipat koran. Satu lagi untuk kawannya.

Saya tidak ingat berapa nominal yang disodorkan bapak. Seingat saya, nominal jauh lebih besar daripada total harga dua lipat koran. Setelah menerima koran itu, si bapak bergerak pergi. Namun seperti dihalangi si bocah yang tetap memandang lekat si bapak.

“Lho kurang ya?” kata si bapak sambil merogoh kantong lagi.

“Enggak. Cuma seribu pak (maksudnya satu lipat koran),” kata si bocah itu memberi tahu.

“Oh, ambil aja kembaliannya,” kata si bapak.

Yang saya lihat jelas, si bocah itu kebingungan mendapatkan uang lebih dari penjualannya. Tapi kedua bapak itu sudah berjalan menjauhi. Mungkin malu, atau takut karena tidak terbiasa mendapat hal seperti itu. Kalau boleh saya memilah kata, wajahnya seperti kelu. Wajah ini biasanya terjadi ketika orang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, atau tersudut.

Setelah melihat itu, saya dan Fitra tersenyum. Kami sependapat, anak kecil itu memperoleh imbalan dari sikapnya yang mengalah dari teman-temannya sesama penjual koran bekas. Itu hal pertama.

Yang kedua, yang membuat kami kagum, dia mendapatkan imbalan dari kejujurannya. Dia jujur kalau harga satu lipat koran itu hanya seribu. Mungkin kalau peristiwa itu terjadi pada temannya, tanpa babibu, uang lebihan itu akan langsung dikantongi tanpa memberitahu pada pembelinya harga sebenarnya satu koran lipat itu.

Tuhan membuktikan keadilan-Nya, nyata di depan kami. Dan kami menyadari itu sepenuhnya. Kejujuran… ya kejujuran yang semakin langka di masa ini. Saya sendiri bukanlah orang jujur. Seringkali berbohong, terutama membohongi diri sendiri.

Dan di depan saya, Tuhan menunjukkan arti kejujuran itu, manfaat kejujuran itu. Bukan karena imbalannya. Tapi karena, kejujuran itu adalah hal yang mulia, hal yang beradab, hal yang dicintai Tuhan.

Di waktu yang sama, dalam suatu pemberitaan saat itu, sedang ramai-ramainya dua orang anak SD yang juga berlaku jujur, tapi malah mendapatkan kecaman.

Masih ingat bukan, ketika seorang bocah SD diminta oleh gurunya memberikan contekannya secara massal kepada teman-temannya saat Ujian Nasional? Dan secara mengejutkan dia memberikan pengakuan tersebut kepada orangtuanya, yang kemudian terungkap di media.

Satu bocah SD itu bernama Alif yang berlokasi di Surabaya. Satu bocah lagi bernama Abrari, pelajar di Jakarta Selatan. Sayangnya keduanya mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari lingkungan sekolah dan masyarakat sekitarnya.

Alif pelajar SDN Gadel II, Tandes, Surabaya, diusir dari lingkungannya. Karena orangtuanya melaporkan tindakan contek massal itu ke dinas pendidikan setempat. Akibatnya, Kepala Sekolah SDN Gadel II dan dua guru mendapat sanksi berupa penurunan pangkat 1-3 tahun. Mereka juga tidak diperbolehkan menjabat sebagai kepala sekolah.

Balasan diterima AL dan keluarganya sungguh miris. Mereka diusir oleh warga dari kediamannya di Gadelsari Barat, Surabaya, karena dianggap tidak punya hati nurani.

Muhammad Abrari Pulungan, 12 tahun, siswa Sekolah Dasar 06 Petang Pesanggrahan, Jakarta Selatan, mengisahkan bahwa kasus contek massal itu terjadi pada hari pertama Ujian Nasional (UN) pada 10 Mei 2011 lalu. Mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia.

Sebelum ujian dimulai ada penjelasan dari guru pengawas untuk tidak mencontek. Tapi itu hanya berlangsung singkat. Tak kurang dari sepuluh menit, sejumlah siswa saling tukar jawaban, dan pengawas hanya diam saja. Setelah dia melaporkan masalah yang meresahkan ini kepada ibunya, Irma Winda Lubis. Dia langsung datang dan meminta penjelasan ke sekolah dengan membawa kamera untuk merekam.

Abrar mengaku sempat dimusuhi oleh kawan-kawannya di sekolah setelah melaporkan peristiwa itu. “Ibu selalu mengajarkan untuk jujur, tidak boleh bohong apa lagi curang. Walaupun soal UN kemarin lebih sulit dari soal tryout sebelumnya, tapi itu hasil pekerjaan saya sendiri, saya tidak mau menyontek,” tegasnya.

Luar biasa bukan?

Kejujuran, kejujuran, kejujuran. Petinggi negara ini, bangsa ini, harus belajar makna kejujuran dari ketiga bocah yang saya ceritakan di atas.

Ujung dari tulisan ini adalah, saya juga belajar dari mereka. Saya akan terus berusaha jujur di kehidupan ini, meski mendapatkan imbas kepahitan. Dari ketiga anak itu, saya belajar, Tuhan akan memberikan keadilan atas kejujuran yang kita lakukan.

Apakah kita bisa berlaku jujur? Saya jawab, cobalah! Lakukanlah!

Jika kita mudah melakukan keburukan, selalu berkata Ya untuk berbuat buruk, kenapa harus katakan Tidak untuk hal yang baik, yang berpahala, jalan yang dicintai Tuhan.

Katakanlah, “Kenapa tidak? Saya akan mulai jujur.”

Toh, tidak perlu mengeluarkan uang untuk berkata jujur bukan?

SHARE
Previous articleSajak Rajawali
Next articleHanya Sebuah Sandi
Saya Harry, pemilik weblog sangharry.com. Seorang jurnalis sewajarnya. Suka dengan suasana malam, ditemani kopi hitam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here